Bapeten data pemilik Cesium 137

id Bahan radioaktif,Cesium 137

Bapeten data pemilik Cesium 137

Simulasi Penanggulangan Kedaruratan Nuklir Petugas Proteksi Radiasi (PPR) dari Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) melakukan penyisiran sumber radioaktif yang tercecer di tempat kejadian perkara terjadinya kecelakaan mobil pengangkut bahan radioaktif saat geladi lapang penanggulangan Kedaruratan Nuklir atau Radiologi di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (6/12/2018). Dalam geladi lapang ini Bapeten bekerja sama dengan Kompi Zeni Nubika TNI AD dan Kepolisian untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel dalam menanggulangi kecelakaan nuklir serta uji coba peralatan yang ada. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Bagian Komunikasi Publik dan Protokol Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Abdul Qohhar Teguh mengatakan sedang mendata pemilik bahan radioaktif Cesium 137 (Cs-137) di Indonesia untuk menemukan pelaku pembuangan Cs-137 yang menjadi sumber paparan radiasi di area tanah kosong di samping lapangan voli blok J di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

"Pimpinan (Bapeten) sudah memberikan arahan untuk mulai melakukan pendataan pengguna Cesium 137 di seluruh Indonesia. Data ini nanti akan digunakan dalam proses investigasi ke depan," kata Abdul kepada ANTARA, Jakarta, Senin.

Abdul menuturkan investigasi tersebut dalam konteks mencari asal muasal, personil terlibat, dan motif pembuangan bahan radioaktif di wilayah tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC),Cesium 137 merupakan salah satu produk sampingan dari proses fisi nuklir di reaktor nuklir dan pengujian senjata nuklir.

Pihak Kepolisian RI juga sudah mulai masuk ke wilayah yang terkontaminasi itu untuk mengumpulkan data bagi keperluan penyelidikan atas temuan limbah radioaktif di wilayah Perumahan Batan Indah itu.

Saat ini, pihak Bapeten dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) masih terus melakukan proses pembersihan (clean up) lahan dari sumber paparan radioaktif.

Tim BATAN telah mengadakan kegiatan dekontaminasi dengan melakukan pengerukan tanah dan pemotongan pohon atau tanaman, dengan didampingi tim BAPETEN. Material yang diambil itu dikirim ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN untuk diolah lebih lanjut.

Saat ini sebanyak 115 drum berisi tanah yang terkontaminasi zat radioaktif telah dikeruk dan dibawa ke PLTR BATAN yang memiliki fasilitas penyimpanan limbah nuklir.

Hingga sekarang ini pengerukan tanah sudah dilakukan dengan kedalaman sekitar 20-30 centimeter, dan proses pengerukan tanah masih berlangsung untuk mengurangi nilai paparan radiasi di wilayah itu.

Sebelummya, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan menegaskan temuan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) zat radioaktif di area kosong Komplek Batan Indah, Tangerang Selatan, tidak berasal dari kecelakaan atau kebocoran reaktor riset GA Siwabessy.

"Bukan dari reaktor nuklir, hingga saat ini reaktor yang dioperasikan sejak 1987 tetap beroperasi dengan aman dan selamat," ujar Anhar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
 
Pewarta :
Editor: Eka Arifa
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar