Sultan dukung penanaman nyamplung atasi krisis energi

id mangunan

Sultan dukung penanaman nyamplung atasi krisis energi

Sultan (Foto)

Gunung Kidul, (Antara Jogja) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mendukung penanaman nyamplung di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, untuk mengatasi krisis energi.

Sultan di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan tanaman nyamplung akan dikembangkan di lahan seluas 100 hektare untuk mendukung program energi berkelanjutan tersebut.

"Program energi berkelanjutan ini sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Saya memang sudah berkomunikasi dengan pemerintah pusat akan melaksanakan program energi berkelanjutan nonfosil. Kami berharap produksi buah dapat menyuplai kebutuhan di Baron Tekno Park," kata Sultan usai melakukan penananaman bibit nyamplung di RPH Gubug Rubuh.

Sultan khawatir, jika unit produksi pengolahan minyak nabati di Baron Techno Park tidak segera dioperasikan.

"Untuk itu, kami berharap ada suplai buah nyamplung dari daerah lain yang sudah bisa dimanfaatkan," katanya.

Peneliti utama Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemulihan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta Budi Leksono mengatakan tanaman nyamplung dikembangkan BBPBPTH Yogyakarta sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN).

"Melihat kebutuhan tersebut, kami terus melakukan penelitian secara intensif termasuk mempersiapkan sumber benih unggul dari populasi yang mempunyai rendemen minyak tinggi ini," katanya.

Ia mengatakan nyamplung merupakan tanaman asli indonesia yang banyak dijumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah pesisir pantai sampai ketinggian 200 mdpl. Di Kabupaten Gunung Kidul tanaman nyampung dikembangkan dilahan seluas 25 hektare.

"Nyampung sangat potensial memenuhi target produksi biofuel pada tahun 2025 sebesar 5 persen dari total kebutuhan energi minyak nasional," kata dia.

Menurut Budi, selain menghasilkan BBN, tanaman nyamplung berpotensi menghasilkan produk lain dari pemanfaatan limbahnya seperti briket arang, asap cair untuk pengawet kayu, bungli untuk pakan ternak, resin atau getah untuk obat-obatan dan pewarna tekstil, sabun.

"Rendemen minyak nyamplung tertinggi dari enam populasi nyamplung di Jawa berasal dari Gunung Kidul 50 persen dan dari 12 populasi nyamplung di tujuh pulau tertinggi dari Dompu (NTB) sebesar 58 persen," kata dia.

Satu liter minyak nyamplung dapat dihasilkan dari 2-2,5 kg biji, sedangkan jarak pagar membutuhkan empat kg untuk mengasilkan satu liter minyak. Tanaman nyamplung yang diolah menjadi biodiesel diharapkan mampu menyediakan energi non fosil dimasa yang akan datang. ***1***

(KR-STR)
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2024