Laskar Berlian kampanye pencegahan demam berdarah

id demam berdarah

Laskar Berlian dari Kecamatan Danurejan Yogyakarta menggelar kampanye pencegahan demam berdarah dengan mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, Minggu (14/6). Laskar Berlian terdiri dari anak-anak usia kelas 3 SD hingga 3 SMP. (Foto Antara/

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Sekitar 250 anak dari Kecamatan Danurejan Yogyakarta yang tergabung dalam Laskar Berlian berkeliling kampung melakukan kampanye pencegahan demam berdarah kepada masyarakat dalam rangka Pesta Laskar Berlian.

"Laskar Berlian beranggotakan anak-anak usia kelas 3 SD hingga 3 SMP yang telah memperoleh edukasi mengenai cara-cara pencegahan demam berdarah. Berlian adalah kepanjangan dari bersih lingkungan anti-nyamuk," kata Camat Danurejan Budi Santoso di sela Pesta Laskar Berlian di Yogyakarta, Minggu.

Menurut Budi, Kecamatan Danurejan telah membentuk Laskar Berlian sejak 2011 dan setiap tahun menggelar Pesta Laskar Berlian untuk mengukuhkan anggota baru. Tiap kelurahan mengajukan sekitar 80 anak untuk menjadi anggota Lakar Berlian.

Sebelum dikukuhkan sebagai Laskar Berlian, anak-anak dari tiga kelurahan di Kecamatan Danurejan tersebut berkeliling di kelurahannya masing-masing untuk mengampanyekan pencegahan demam berdarah.

Budi berharap, kampanye yang dilakukan anak-anak tersebut bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya sehingga nyamuk tidak mudah berkembang biak.

Di dalam pesta tersebut, anak-anak juga dikenalkan mengenai jenis-jenis nyamuk dan cara perkembangbiakannya melalui permainan-permainan yang menyenangkan.

Kegiatan tersebut dilakukan bekerja sama dengan Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, yaitu sebuah program penelitian bersama yang dilakukan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada didanai Yayasan Tahija.

"Jika anak-anak ini sudah mengenal cara-cara pencegahan demam berdarah, maka diharapkan mereka akan terus mengingatnya hingga dewasa sehingga kasus demam berdarah bisa ditekan," katanya.

Sementara itu, District Surveillance Officer Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Rubangi mengatakan, beberapa kecamatan sudah memiliki juru pemantau jentik yang berasal dari anak-anak.

"Misalnya saja di Danurejan dengan laskar Berlian atau di kecamatan lain sudah memiliki juru pemantau jentik cilik. Nama di tiap kecamatan berbeda-beda," katanya.

Ia berharap, keberadaan laskar tersebut mampu menekan angka bebas jentik di Kota Yogyakarta yang kini mencapai 85 persen.

Kota Yogyakarta adalah daerah endemik demam berdarah dan setiap tahun terjadi kasus demam berdarah.

Hingga awal Juni, jumlah kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta mencapai 607 kasus dengan delapan penderita meninggal dunia. "Jumlah kasus tahun ini sudah lebih banyak dibanding tahun lalu," katanya. ***4***

(E013)
Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar