Pelaksanaan program Sekolah Adiwiyata terganjal anggaran

id Sekolah,Adiwiyata

Pelaksanaan program Sekolah Adiwiyata terganjal anggaran

Sejumlah orang tua mengantar anaknya pada hari pertama masuk sekolah, di SDN Minasaupa Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/7). (ANTARA FOTO/Yusran Uccang/pd/16)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta menengarai, program Sekolah Adiwiyata yang belum dapat dilaksanakan secara maksimal disebabkan kendala pada kebijakan anggaran sekolah.

"Banyak sekolah yang sudah membuat berbagai program untuk pelaksanaan Sekolah Adiwiyata. Namun, program tersebut tidak didukung dengan anggaran sehingga tidak dapat dijalankan secara maksimal," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Suyana, DLH Kota Yogyakarta sudah mengingatkan sekolah untuk mengalokasikan anggaran kegiatan Sekolah Adiwiyata dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah.

"Mungkin saja, sudah dianggarkan pada perencanaan, tetapi kemudian saat diajukan untuk disahkan sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS), kegiatan untuk Sekolah Adiwiyata dicoret," katanya.

Di Kota Yogyakarta sudah ada 165 sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata meskipun tingkatannya berbeda-beda, mulai dari rintisan hingga mandiri.

"Sekolah sebenarnya dapat mengukur sendiri apakah sudah masuk sebagai sekolah adiwiyata atau belum. Tinggal memasukkan data dalam aplikasi yang sudah ada, nanti akan otomatis keluar nilainya," katanya.

Penilaian tersebut, lanjut dia, dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk tiap sekolah dalam meningkatkan program Sekolah Adiwiyata.

"Setiap kegiatan atau program Sekolah Adiwiyata harus terdokumentasi. Terkadang, sekolah tidak melakukan hal ini. Harapannya, mereka bisa melakukan dokumentasi yang lebih baik terhadap seluruh program yang sudah dilakukan," katanya.

Suyana menyebut, program kegiatan pada Sekolah Adiwiyata sebenarnya tidak sulit karena dapat diintegrasikan dalam kegiatan mata pelajaran.

"Masih banyak sekolah yang menilai untuk menjadi Sekolah Adiwiyata membutuhkan lahan yang luas untuk menanam pohon atau penghijauan. Padahal, dengan mengintegrasikan kegiatan pada mata pelajaran sudah bisa menjadi penilaian untuk Sekolah Adiwiyata. Asalkan terdokumentasi dengan baik," katanya.

Pelaksanaan zonasi pada penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2018/2019, lanjut Suyana, juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan Sekolah Adiwiyata.

"Karena yang akan bersekolah adalah siswa di sekitar lingkungan sekolah, maka mereka tentunya mempunyai rasa memiliki yang lebih kuat terhadap sekolah, termasuk menjaga lingkungan agar tetap lestari," katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mendorong seluruh sekolah untuk dapat menjadi Sekolah Adiwiyata bahkan jika memungkinkan dapat meraih prestasi.

"Jadikan sekolah sebagai kebanggaan siswa, salah satunya menjadi Sekolah Adiwiyata. Tidak perlu takut dalam menyusun anggaran," kata Heroe.

Ia pun meminta Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dapat memberikan kesempatan bagi setiap sekolah untuk mengalokasikan anggaran pelaksanaan program Sekolah Adiwiyata.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 6 Yogyakarta Retno Wuryaningsih mengatakan, pelaksanaan program Sekolah Adiwiyata tidak sulit.

"Yang berat justru pada proses administrasinya, yaitu saat memasukkan seluruh data atau dokumentasi dari kegiatan yang sudah dilakukan," katanya.

Retno mengatakan, SMP Negeri 6 Yogyakarta sudah menjadi juara Sekolah Adiwiyata tingkat Kota Yogyakarta pada 2015 dan 2016.

"Tujuannya adalah pada pembenahan sekolah dan membiasakan siswa untuk menjaga lingkungannya. Bukan untuk meraih juara," katanya. ***4***



(U.E013) 23-02-2018 16:42:36
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar