Lurah terpilih di Bantul jangan rarayakan berlebihan

id Pilkades

Ilustrasi (Foto Istimewa)

Bantul (Antaranews Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meminta lurah atau kepala desa terpilih dalam pemilihan kepala desa serentak pada 14 Oktober lalu tidak merayakan kemenangan secara berlebihan.
    
"Imbauanya bagi (calon lurah) yang menang saya pikir kalau bersyukur tidak usah 'over', dan ada toleransi dengan yang kalah," kata Kepala Bagian Pemerintahan Desa (Pemdes) Setda Bantul Jazim Aziz di Bantul, Selasa.
    
Pada 14 Oktober 2018, sebanyak 30 desa yang tersebar di 15 kecamatan se-Bantul mengadakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak, menurutnya ada sebanyak 87 calon lurah yang berkompetisi di sebanyak 30 kelurahan itu.
    
Menurut dia, sebaliknya calon lurah yang tidak terpilih rakyatnya juga harus menghormati pesaing yang terpilih dan mengakui keunggulan karena keputusan itu merupakan representasi dari masyarakat sebagai pemilih.
    
"Itu pemimpin yang dipilih rakyat harus kita hormati, dan kalau niatannya adalah untuk mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai lurah, kalaupun tidak jadi lurah tetap saja bisa mengabdikan dirinya dalam porsi yang berbeda," katanya.
    
Menurut dia, lurah terpilih dalam Pilkades itu tidak diumumkan secara resmi oleh pemerintah, hanya saja hasilnya langsung bisa diketahui setelah penghitungan suara oleh panitia Pilkades dalam hal ini Badan Permusyawaratan Desa (BPD) masing-masing.
    
"Yang mengumumkan dari pihak panitia dan lurah, juga biasanya ada dari saksi yang sudah tahu (hasilnya) lewat hitung cepat, jadi semua calon lurah punya tim sendiri untuk akurasi dalam penghitugan," katanya.
    
Ia mengatakan, total daftar pemilih tetap (DPT) Pilkades di 30 desa tersebut tercatat 282.320 pemilih yang tersebar di 791 tempat pemungutan suara (TPS). Untuk partisipasi pemilih aktif belum dipastikan prosentasenya.
    
Sedangkan terkait dengan masalah yang terjadi dalam proses Pilkades, menurut dia, tidak ditemukan masalah maupun gesekan-gesekan yang bisa memicu konflik antarpendukung, sebab hal itu sudah diantisipasi bersama.
    
"Panitua maupun jajaran muspika dan tim di kabupaten sudah antisipasi, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, memang tingkat kerawanan pada saat penghitungan dan setelah penghitungan, mudah sampai akhir tidak ada gesekan yang berarti," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar