Amartha salurkan modal untuk perempuan pelaku usaha kecil

id fintech,amartha

Salah satu produk kerajinan tali yang dihasilkan Sri Wahyuni, perempuan pelaku usaha mitra Amartha (Foto Dok, Tim Amartha)

Yogyakarta (ANTARA) - Amartha, perusahaan finansial teknologi (fintek) peer to peer lending, menyalurkan modal usaha dan memberikan pendampingan usaha pada para perempuan pelaku usaha kecil dan mikro agar mereka bisa membangun usaha dalam jangka panjang.

"Amartha telah membantu lebih dari 270 ribu perempuan pelaku usaha kecil dan mikro di 4.100 desa di seluruh Indonesia," kata Chief Commercial Officer Amartha Hadi Wenas di sela Amartha Village Tour Klaten, Jawa Tengah, Rabu.

Ia mengatakan, hingga Juli 2019 Amartha telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp1,2 triliun dan mempertemukan lebih dari 270 ribu perempuan pelaku usaha kecil dan mikro di 4.100 desa yang membutuhkan modal kerja.

"Berbeda dengan fintek lain, Amartha memberikan pendampingan melalui metode kelompok kepada seluruh mitra peminjam agar usaha mereka bisa tumbuh dan berkembang," katanya.

Metode itu, menurut dia, berhasil meningkatkan pendapatan perempuan mitra hampir 60 persen, dan mengurangi tingkat kemiskinan mitra sebesar 22 persen.

"Amartha yang telah mendapat izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berusaha membawa dampak sosial nyata ke masyarakat piramida bawah," kata Hadi.

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto menambahkan Amartha menggunakan sistem tanggung renteng yang dibuat per kelompok (majelis) terdiri dari 15 hingga 20 orang untuk menekan tingkat gagal bayar.

Selain mendapatkan pinjaman, kelompok Majelis Amartha juga diberi pendampingan dan pelatihan langsung oleh tim lapangan atau Field Officer Amartha. Materi yang diberikan berupa pengetahuan mengolah keuangan untuk membangun usaha serta kedisplinan.

"Pemantauan dan pendampingan akan terus dilakukan setiap satu pekan sekali selama mereka menjadi mitra Amartha," kata Aria.

Salah satu contoh pendampingan Majelis Amartha adalah Titik Supartina, yang usahanya dimulai ketika melakukan edukasi cara membatik tulis di lingkungan kelurahan di wilayah Prambanan, Klaten.

Titik berhasil mengembangkan kemampuan membatik perempuan di sekitarnya dengan memberikan upah sebesar Rp200 ribu per lembar kain batik tulis yang dihasilkan.

Dengan modal awal pinjaman Rp1 juta dari Amartha untuk membeli kain dan peralatan pembuatan batik tulis, saat ini usaha batik tulis Titik telah berkembang dan banyak dibeli wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara.

Selain Titik, Amartha juga mengunjungi Sri Wahyuni, pelaku usaha kerajinan tali, di Ceper, Klaten. Perempuan ini menjadi mitra Amartha sejak 2014 dengan pinjaman awal sebesar Rp2 juta.

Sri mengolah tali menjadi kerajinan anyaman dan tali pramuka yang dijual hingga ke luar kota. Usahanya berkembang dan omzetnya kini mencapai jutaan rupiah per bulan.

Keuntungan usaha tali digunakan untuk membiayai pendidikan anak dan mengembangkan usaha kerajinan lampu hias dari pipa pvc atau paralon.

Amartha juga mengunjungi Pariyah warga Randusari Prambanan, Klaten yang berhasil mengembangkan usaha pembuatan keripik dan stik yang terbuat dari buah sukun.

Pariyah bergabung menjadi mitra Amartha pada 2014, dengan pinjaman awal sebesar Rp3 juta. Usaha olahan keripik dan stik sukun Pariyah berkembang dan mampu memberdayakan tetangga dan kerabatnya menjadi karyawan.

Saat ini karyawan Pariyah sebanyak 12 orang dengan produksi per hari mencapai 2,5 kuintal keripik dan stik sukun. Produk olahan keripik dan stik sukun yang dihasilkan Pariyah juga diekspor ke Jepang.
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar