Ditjen PAUD dan Dikmas selenggarakan pendidikan berbasis digital MOOC

id paud,kemendikbud

Ditjen PAUD dan Dikmas selenggarakan pendidikan berbasis digital MOOC

Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Dikmas Kemendikbus Harris Iskandar dalam "Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat dan Evaluasi Kinerja Pengelolaan PAUD dan Dikmas Tahun 2019", di Yogyakarta, Minggu (1/12) (HO-Humas Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud)

Yogyakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan pendidikan berbasis digital melalui Massive Open Online Course (MOOC) untuk mengantisipasi era industri 4.0.

"Peserta didik di mana pun bisa mengikuti. Gratis dan dilakukan secara interaktif," kata Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Dikmas Kemendikbud Harris Iskandar dalam "Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat dan Evaluasi Kinerja Pengelolaan PAUD dan Dikmas Tahun 2019", di Yogyakarta, Minggu (1/12).

Menurut dia, Ditjen PAUD dan Dikmas melalui Direktorat Kursus dan Pelatihan telah memberikan pendidikan keterampilan kerja, pendidikan keterampilan wirausaha dan uji kompetensi kepada anak putus sekolah yang ingin mengembangkan diri dan mengembangkan profesi sehingga mandiri.

"Program Massive Open Online Course (MOOC) adalah sistem pembelajaran kursus online. MOOC merupakan metode belajar-jarak-jauh dengan skala-besar, gratis dan bisa diakses siapa saja dan di mana saja mereka berada di dunia," katanya.

Mereka, kata dia, membantu menyediakan kursus-kursus level-universitas untuk siapa saja yang kurang mampu atau cukup berkenan untuk mendapatkan gelar sarjana mereka di institusi level unggul atau berkuliah di luar negeri.

"Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi terbanyak penyelenggara kursus yakni sekitar 2.450, disusul Jawa Timur 2.209, Jawa Tengah 1.501, sedangkan Jakarta hanya 872," kata Harris.

Sedangkan untuk anak putus sekolah dan anak dari keluarga tidak mampu, Ditjen PAUD dan Dikmas melalui Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan juga menyelenggarakan pendidikan berbasis online melalui seTARA daring.

SeTARA daring merupakan sebuah inovasi layanan pembelajaran pendidikan kesetaraan yang dapat dijadikan pilihan moda pembelajaran melalui ruang kelas digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

"Peserta seTARA daring tercatat ada sekitar 592 lembaga dengan 4.549 tutor dan 6.914 peserta didik yang mengikuti pembelajaran berbasis digital. Mereka belajar sambil bekerja. Bisa mengakses belajar melalui android," katanya.

Menurut dia, peningkatan peserta didik kesetaraan bisa dilacak melalui Ujian Paket Kesetaraan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2018 sebanyak 79.639 peserta didik, sedangkan tahun 2019 meningkat menjadi 118.885 peserta.

"Peserta ujian kesetaraan ini, semuanya mengikuti ujian nasional berbasis komputer atau sudah UNBK semua," kata Harris.

Ia mengatakan, untuk kemudahan peserta didik kesetaraan Ditjen PAUD dan Dikmas juga memberikan PIP kepada warga belajarnya. Pada anggaran 2019, usulan bagi warga belajar pendidikan kesetaraan paket A, B, dan C sejumlah 376.014 orang, namun direalisasikan sebanyak 169.127 orang.

Besaran dana PIP saat ini untuk pemegang KIP per bulan berkisar antara Rp450 ribu hingga Rp1 juta. Besaran PIP per tahun untuk Paket A/SD sebesar Rp450.000, Paket B/SMP sebesar Rp750.000, dan Paket C/SMA sebesar Rp1.000.000.

"Semua upaya pemerintah ini dalam rangka peningkatan layanan pendidikan bagi seluruh masyarakat. Pendidikan yang berkualitas dan merata," kata Harris.

Menurut dia, pelaksanaan pendidikan kesetaraan berbasis online yang dikembangkan Ditjen PAUD dan Dikmas merupakan upaya membangun pemuda produktif lebih mandiri secara ekonomi, sosial maupun budaya.

Selain itu juga memberi ruang kepada pemuda, khususnya yang putus sekolah dan dari keluarga tidak mampu melalui perluasan akses piranti digital agar lebih bermanfaat dan meningkatkan nilai tambah perekonomian.

"Pemuda yang terdidik dan tercerahkan itu akan mengawal perubahan Indonesia di masa depan. Dengan potensi sumberdaya manusia yang berkualitas itulah yang akan mampu memanfaatkan kemajuan era digital untuk membuka jalan kemanfaatan yang lebih besar," katanya. 

Ia mengatakan, dunia pendidikan masyarakat Indonesia pun mulai memancarkan sinar harapan di mata masyarakat. Pasalnya, anak-anak putus sekolah dan anak dari keluarga kurang mampu yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya, tetap bisa mengenyam pendidikan dan mengembangkan keterampilan melalui pendidikan nonformal berbasis digital.

"Wajib belajar 12 tahun pun bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi solusi konkret dan merata yang dirasakan masyarakat," kata Harris.

Ditjen PAUD dan Dikmas yang membidangi pendidikan masyarakat telah memberikan layanan pendidikan bagi anak bangsa melalui pendidikan keaksaraan dan peningkatan keterampilan melalui lembaga kursus.

"Dengan 10 jenis keterampilan yang banyak diminta di antaranya desain grafis, web aplikasi, digital marketing, teknik otomotif, fashion desain, tata kecantikan, tata boga, bordir dan sulam, serta akuntansi dan elektronika," kata Harris.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar