Memanfaatkan Sungai Winongo kecil, Bantul, DIY, untuk pertanian ekonomi pariwisata

id Sungai Winongo kecil ,Pertanian dan perekonomian ,Wisata sungai winongo kecil Oleh Hery Sidik

Memanfaatkan Sungai Winongo kecil, Bantul, DIY, untuk pertanian ekonomi pariwisata

Sungai Winongo kecil di wilayah kelurahan Srigading Sanden, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. (ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Gemericik suara air mengalir terdengar sayup ketika melintasi wilayah Jalan Samas di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aliran air memanjang dari utara ke selatan itu menghiasi pemandangan pinggir jalan di sisi timur.

Aliran tersebut adalah Sungai Winongo kecil yang merupakan bagian dari saluran irigasi atau saluran primer ke sekunder. Di dalam aliran sungai tersebut terdapat bendungan kecil sebagai pengendali debit volume air.

Lurah Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Prabawa Suganda, mengatakan fungsi dam tersebut mengalirkan air ke saluran irigasi pertanian untuk mendukung usaha tani yang ada di wilayah kelurahan sisi selatan Bantul itu.

Selain sebagai saluran irigasi, yang berarti sudah punya dampak ekonomi untuk pengairan lahan pertanian masyarakat, saluran irigasi Sungai Winongo kecil ini juga dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan perekonomian di masyarakat.

Salah satunya adalah "restoking" ikan atau penebaran bibit ikan, hasil kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul. Restoking ikan itu biasadisebut sebagai upaya keanekaragaman hayati, dengan bantuan bibit bibit berasal dari pemerintah.


Gogoh kali

Warga Kelurahan Srigading Sanden menyebut kegiatan memanen ikan pada saluran Sungai Winongo kecil dengan istilah "gogoh kali". Gogoh kali, dalam bahasa Indonesia adalah menangkap ikan di sungai tanpa menggunakan alat. Kegiatan ini dilakukan ketika aliran sungai dikurangi melalui pintu pengendali air.

Gogoh kali yang sudah menjadi kegiatan wisata masyarakat Srigading di setiap musim kemarau, menjelang musim hujan, adalah menangkap ikan yang dipanen setelah bibit-bibit ikan tersebut ditebar pada musim hujan atau ketika debit air besar di saluran Sungai Winongo kecil.

Apa yang dilakukan masyarakat terkait dengan gogoh kali itu ada kegiatan ekonomi dan wisata yang terpadu.

Saat ini, telah terbentuk kelompok masyarakat pengelola desa wisata yang mengoordinir kegiatan gogoh kali. Pemerintah kelurahan memfasilitasi apabila masyarakat membutuhkan dukungan, baik untuk dana maupun bibit ikan.

Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kedung Mina Lestari mencatat gogoh kali Sungai Winongo kecil terakhir dilaksanakan pada September 2023. Saat itu ratusan, bahkan ribuan orang, secara bersama menangkap ikan di aliran sungai yang debit airnya sudah didangkalkan.

Dengan demikian sungai tersebut bermanfaat untuk penduduk sekitar, dengan wisata panen raya ikan tahunan yang biasanya diadakan sebelum musim hujan tiba.

Sebelum panen ikan, pemerintah kelurahan mengumumkan ke semua. Warga yang mau ikut mencari ikan dipersilahkan memberikan infaq seikhlasnya. Uang itu untuk dikembangkan lagi guna membeli bibit ikan dan ditabur lagi untuk dipanen bersama sama di musim berikutnya.

Pada tahun 2023, sebelum panen raya ikan, kegiatan restoking di aliran Sungai Winongo kecil mendapatkan dukungan dari DKP DIY sebanyak 10 ribu bibit berbagai jenis, mulai dari tawes, wader, dan udang galah. Dari kelompok itu juga ikut menebar bibit ikan sekitar 10 ribu bibit.

Setelah restoking ikan tersebut, semua warga Srigading, baik di sisi utara dan selatan, hanya diperbolehkan menangkap ikan dengan memancing. Warga dilarang menangkap ikan dengan jaring, racun, maupun alat tangkap tidak ramah lingkungan, demi menjaga kelestarian ekosistem ikan.

Kelompok pengawas juga telah memasang papan larangan aktivitas penangkapan ikan menggunakan alat tidak ramah lingkungan pada beberapa titik yang menjadi jangkauan pengawasannya, agar komitmen menjaga ekosistem sungai dilaksanakan bersama.

Mereka juga membuat larangan membuang sampah di sungai dan menjaga keberadaan benih benih ikan. Untuk pengawasan ada di masyarakat, kelompok pengawas hanya mengoordinir agar warga terus kompak dan berkomitmen untuk menjalankan ketentuan tersebut.

Sungai Winongo kecil yang dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian dan pertanian di wilayah Kelurahan Srigading tersebut membelah empat pedukuhan di desa tersebut, yaitu Karen, Gedongan, Celeb dan Dusun Ceme. Masyarakat di wilayah itu, juga diajak turut menjaga lingkungan sungai.

Ketika musim hujan, seperti sekarang ini, air dari saluran Sungai Winongo kecil lebih banyak dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, sementara masyarakat setempat lebih banyak berkegiatan bersih-bersih saluran agar aliran air tidak menghambat, yang berdampak banjir.

Pemerintah Kelurahan Srigading mencatat hampir semua lahan pertanian yang berada di wilayah selatan Bantul ini menggunakan air dari Sungai Winongo kecil. Dalam pemanfaatan irigasi, kelompok pengawas berkoordinasi dengan pengairan untuk mengendalikan pintu air.

Pihak kelurahan tidak memiliki data persis berapa luas lahan pertanian di wilayah Desa Srigading yang memanfaatkan irigasi Sungai Winongo kecil, namun diperkirakan lebih dari 200 hektare lahan untuk padi dan sebagian ditanami bawang merah maupun cabai.

Kalau pemanfaatan air sungai tidak ada batasannya, karena masing-masing disekat oleh pintu air. Semakin mendekati pintu air makin dalam airnya, makin jauh dari pintu air makin dangkal.


Untuk pariwisata

Pemerintah kelurahan bersama masyarakat Srigading juga berfikir bagaimana, selain bermanfaat bagi sektor pertanian, kegiatan perekonomian juga untuk kegiatan pariwisata dengan mengoptimalkan potensi aliran air dan juga sungai yang dilatari dengan pemandangan hamparan sawah.

Kelurahan Srigading telah mengajukan ke Pemerintah Daerah DIY, melalui dana keistimewaan, yang mana pada tahun 2024 telah mendapat alokasi anggaran untuk kedua kali. Anggaran itu digunakan, salah satunya membeli perahu kano.

Tentang kemanfaatan sungai winongo kecil ini harapan kelurahan tidak melulu sebagai saluran irigasi dan budi daya ikan, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi yang lainnya.

Seperti yang dilakukan kelompok masyarakat Srigading yang tergabung dalam Desa Wisata Banjoe Adji, dengan fasilitasi dari pemerintah mengembangkan desa wisata yang menawarkan permainan perahu kano, dengan memanfaatkan aliran di pinggir Sungai Winongo Kecil, sepanjang Jalan Samas.

Pengelola Desa Wisata Banjoe Adji mencatat kelompoknya sudah mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pariwisata Bantul, kemudian beserta warga mendirikan desa wisata pada akhir Agustus 2023, dan sudah mendapatkan surat keputusan (SK) dari Lurah Srigading.

Desa wisata Banjoe Adji menawarkan permainan kano menyusuri sungai Winongo kecil bagi wisatawan yang berkunjung, dengan durasi waktu kurang lebih 10 menit atau menyusuri sungai kurang lebih satu kilometer.

Untuk sementara ini operasional wisata kano di Sungai Winongo kecil dibuka pada libur akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, dengan perahu kano yang disiapkan sebanyak tujuh kano, yang didanai dari Dana Keistimewaan Pemda DIY.

Wisata kano di Sungai Winongo kecil wilayah kelurahan Srigading Sanden, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. (ANTARA/Hery Sidik)
 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Memanfaatkan Sungai Winongo kecil untuk pertanian ekonomi pariwisata