Koperasi "mumbul" produksi tenun sejak 1955

id Koperasi mumbul produksi tenun

Koperasi "mumbul" produksi tenun sejak 1955

Masyarakat Boro, Banjarasri, Kabupaten Kulon Progo memproduksi tenun dengan alat tenun bukan mesin. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (ANTARA Jogja) - Koperasi tenun "Mumbul" Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melestarikan produk industri tenun sejak 1955 hingga saat ini.

"Kami memproduksi berbagai jenis kain tenunan untuk keperluan rumah sakit dan sekolah-sekolah di bawah yayasan Khatolik dan Kristen di seluruh Indonesia. Intinya, kami memproduksi barang-barang tenun dengan bahan katun untuk keperluan hotel, rumah sakit, seragam dan rumah tangga," kata Seksi Persiapan Koperasi tenun "Mumbul" Boro, Pawiro Wiyono di Kulon Progo, Selasa.

Ia mengatakan, jenis tenun yang diproduksi yakni serbet, anduk mandi, selimut, taplak meja, gertenkorel, seragam sekolah, sarung, dan berbagai kebutuhan rumah sakit lainnya.

"Harga yang kami tawarkan mulai dari Rp16.900 per potong hingga Rp65.000 per potong. Harga tergantung motif dan bahan bakunya. Bahan dasarnya kami menggunakan katun asli, kalau dijual di pasaran tidak laku," kata Pawiro.

Kata dia, produksi tenunannya berupa segaram sekolah dipesan di seluruh sekolahan dibawah yayasan Katolik dan Kristen, begitu juga seluruh rumah sakit ternama di Indonesia menggunakan produk tenun koperasinya.

Permintaan produk kain tenun, kata dia, setiap bulannya minimal 3.000 meter kain tenun jadi. Jumlah anggota yang mengerjakan pemesanan yakni 18 orang baik laki-laki dan perempuan.

"Untuk sementara, kami masih penjualannya mengikuti jaringan penjualan Yayasan Santa Maria. Kami bagian dari subproduksi mereka. Meski demikian, kami cukup bangga, karena kami terus dapat bekerja dan pengangguran di sini berkurang," kata Pawiro.

Ia mengatakan, bahan bakunya didapatkan dari distributor di Solo. Ia membeli setiap bal ukuran 20 Rp9 juta sedangkan bal ukuran 40 Rp12 juta.

"Bahannya, kami dapatkan dari Solo, Jawa Tengah. Kalau beli di sini sangat mahal. Pernah kami beli satu kilo Rp300.000. Tentu, ini sangat berat bagi kami, karena keuntungan yang kami dapat sangat kecil dan hanya mencukupi biaya produksi," kata dia.

(KR-STR)