Napak tilas Proklamasi (8-Habis) - Penyebarluasan berita Proklamasi ke seluruh dunia

id Napak tilas Proklamasi kemerdekaan indonesia

Museum dan Galery Foto Jurnalistik ANTARA, DOK (Foto ANTARA)

Oleh Dewanto Samodro
          
Menapaki tangga naik ke Museum Antara yang berada di lantai dua Gedung Antara di Jalan Antara Nomor 59, Pasar Baru,Jakarta  segera terlihat komik sejarah Antara karya Jan Mintaraga di sebelah kiri.

Komik tersebut menggambarkan sejarah Kantor Berita Antara yang didirikan Adam Malik, Pandoe Kartawigoena, Soemanang dan Albert Manoempak Sipahoetar pada 13 Desember 1937, lebih tua daripada usia Republik Indonesia.

Sebagai kantor berita yang memang ditujukan untuk mengimbangi pemberitaan Kantor Berita Aneta milik Belanda, yang pemberitaannya kerap menyudutkan para pejuang kemerdekaan, Antara menerapkan jurnalisme perjuangan.

Begitu pula dengan peran Antara dalam menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Hanya beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada 17 Agustus 1945, beritanya sudah segera mengudara ke seluruh dunia.

Upaya menyebarluaskan berita kemerdekaan Indonesia sudah dilakukan sejak perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda selesai menjelang subuh 17 Agustus 1945.

Para pemuda dari kalangan pers, dipimpin BM Diah, memperbanyak naskah Proklamasi untuk disebarluaskan. Begitu pula dengan penyebarluasan berita kemerdekaan melalui radio.

Namun, penyebarluasan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia baru dilakukan di Gedung Antara Pasar Baru, Jalan Pos Utara (kemudian menjadi Jalan Antara) Nomor 59 Jakarta yang saat itu ditempati Kantor Berita Domei.

Kepala Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh mengatakan yang pertama kali mengabarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia kepada rekan-rekannya di Antara adalah Adam Malik, salah satu pemimpin Kantor Berita Antara.

"Adam Malik menelepon Kantor Berita Domei dan berbicara dengan Asa Bafagih. Kepada Asa Bafagih, Adam Malik memberi tahu bahwa Indonesia sudah merdeka," kata Oscar.

Oscar mengatakan sejak Jepang menduduki, Kantor Berita Antara harus berada di bawah pengawasan pemerintahan militer Jepang.

Menurut Oscar, Jepang adalah negara yang memiliki kesadaran tentang arti penting media dan propaganda. Karena itu, mereka mendirikan sejumlah surat kabar yang berada di bawah pengawasannya di sejumlah daerah.

Beberapa surat kabar itu antara lain Asia Raya (Jakarta), Tjahaja (Bandung), Sinar Baroe (Semarang), Sinar Matahari (Yogyakarta) dan Soeara Asia (Surabaya).

Dalam "Lima Windu ANTARA (Sejarah dan Perjuangannya)" Soebagijo IN menulis setelah Jepang menduduki Indonesia, pemerintah militer Jepang memerintahkan Antara dibubarkan,

    Keberatan

Adam Malik menyampaikan keberatan, sehingga akhirnya pemerintah militer Jepang memberikan usul baru agar Antara mengubah namanya dengan nama Jepang, yaitu Yashima yang artinya semesta.

Adam dihadapkan pada pilihan sulit. Meneruskan Antara hidup tetapi dengan nama Yashima atau membiarkan Antara mati tanpa meninggalkan apa pun. Adam akhirnya memilih pilihan pertama sehingga akhirnya Yashima pun menggantikan kedudukan Antara.

"Mulai tanggal 29 Mei 2602 (1942 M) persburo Antara dihentikan kegiatannya dan pekerjaannya diteruskan oleh pekabaran Yashima. Segala pekerjaan dan pegawainya diambil oleh Yashima," tulis Soebagijo mengutip berita dari mingguan Pandji Poestaka, 6 Juni 1942.

Adam Malik kemudian meminta beberapa rekannya seperti Pangulu Lubis, Rachmat Nasution dan Eris Rasjid Sibuea untuk bergabung ke Yashima. Dalam perkembangannya, pemerintah militer Jepang menempatkan orangnya untuk mengawasi Yashima.

Tiga bulan setelah beroperasi, pemerintah militer Jepang melikuidasi Yashima dan diganti nama menjadi Domei. Domei adalah nama kantor berita Jepang yang didirikan sebelum Perang Dunia II di Tokyo pada 1935.

Hal itu membuat Sipahoetar marah karena merasa dibohongi. Jepang ternyata hanya mengulur waktu untuk memaksakan kehendaknya.

Sejak itu, setiap wartawan Antara harus memberi laporan tertulis kepada pimpinan Jepang di Domei apa yang sudah dikerjakan malam sebelumnya.

Kondisi itu membuat para wartawan Antara marah. Mereka sempat memutuskan untuk keluar dari Domei, termasuk Pandoe Kartawigoena yang waktu itu menjabat Kepala Seksi Dalam Negeri. Namun, Djohan Syahroezah melarangnya.

"Jangan semua keluar, nanti Jepanglah yang akan pegang sini semua," katanya.

Akhirnya sejumlah wartawan Antara memutuskan tetap bertahan.

         
              Kekalahan Jepang

Menjelang kekalahan Jepang, beberapa tenaga inti Antara (Domei di Indonesia), seperti Adam Malik, Pandoe Kartawigoena dan Abdul Hakim sudah lama tidak muncul di kantor karena terlibat aktif dalam mempersiapkan kemerdekaan.

Yang tetap tinggal di kantor saat itu adalah Pangulu Lubis, Rachmat Nasution, Syahruddin, Asa Bafagih, Mohammad Basri, Soendoro, Syamsoeddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi ditambah sejumlah juru ketik dan tenaga bawahan.

Mereka bekerja seperti biasa, tanpa menduga akan ada peristiwa penting yang terjadi. Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah di depan mata, hanya Pangulu Lubis yang diberi tahu oleh Adam Malik. Karena itulah, Adam menugaskan Pangulu untuk selalu bersiap di kantor.

Pada 17 Agustus 1945, dari tempat persembunyiannya di Jalan Bungur Besar, Adam menelepon kantor Antara dan diterima Asa Bafagih. Kepada Asa Bafagih, Adam memberi tahu bahwa Indonesia telah merdeka.

Adam kemudian mendiktekan bunyi proklamasi yang baru saja dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Dia kemudian meminta Asa Bafagih agar meneruskan berita itu kepada Pangulu agar disiarkan tanpa menghiraukan Hodohan.

Saat itu, pemerintah militer Jepang melalui Hodohan melakukan penyensoran terhadap berita-berita yang akan disiarkan. Semua berita yang disiarkan harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari Hodohan.

Oleh Pangulu, berita proklamasi kemerdekaan Indonesia kemudian dikirim ke bagian radio dengan diselipkan di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan. Pangulu menugaskan markonis Soegirin untuk mengawasi penyiaran berita tersebut.

Bersama Soegirin yang berjaga-jaga agar tidak ketahuan orang-orang Jepang, markonis Wua kemudian menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui radio dan mengudara ke seluruh dunia.

"Saat itu sekitar waktu makan siang sehingga penjagaan orang-orang Jepang agak longgar," kata Oscar.

Saat menduduki Indonesia, orang-orang Jepang di Indonesia tetap menggunakan waktu Jepang yang selisih dua jam dengan waktu Indonesia bagian Barat saat ini.

Karena itu, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta pada pukul 10.00, para tentara Jepang memang sedang istirahat makan siang karena bagi mereka saat itu pukul 12.00.

Begitu pula ketika Adam Malik menelepon rekan-rekannya di Antara dan meminta berita proklamasi disiarkan, orang-orang Jepang yang bertugas di Domei, selain sudah "ogah-ogahan" karena menderita kekalahan, banyak yang tidak berada di kantor untuk istirahat makan siang.

Berita yang disiarkan melalui udara itu segera mendapat tanggapan beragam. Muncul tanggapan dari beberapa tempat di luar negeri, seperti San Fransisco dan Australia. Pemerintah militer Jepang pun marah. Polisi Jepang atau "Kempetai" pun segera bertindak.

Saat menerima gertakan polisi melalui telepon, Pangulu menjawab bahwa berita tersebut sudah diberi izin oleh Hodohan. Ketika ditanya keberadaan Adam Malik, dia juga menjawab tidak tahu.

Karena tidak bisa bertindak lebih jauh, pemerintah militer Jepang kemudian memerintahkan Domei untuk membuat ralat yang menyatakan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah salah. Yang ditugaskan saat itu adalah Syamsoeddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi.

Karena mendapat tentangan dari rekan-rekannya, mereka tidak jadi membuat ralat lalu pergi keluar kantor. Seorang Jepang bernama Tanabe kemudian membuat ralat itu yang kemudian juga disiarkan markonis Wua.

"Namun sudah terlambat. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah tersebar luas ke seluruh dunia dan itu terjadi di sebuah bangunan di Jalan Pos Utara Nomor 59 yang saat ini menjadi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara," kata Oscar. (selesai) ***2*** (D018)



Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar