Sanitasi Sleman masuk enam besar terbaik Kemenkes

id sri muslimatun

Sanitasi Sleman masuk enam besar terbaik Kemenkes

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan sebagai enam kabupaten sanitasi terbaik. (Foto Antara/Humas Sleman).

Sleman (Antaranews Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil meraih penghargaan dari Kemeterian Kesehatan sebagai enam kabupaten/kota terbaik se-Indonesia dalam upaya menggubah perilaku higieneis masyarakat melalui sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) berkelanjutan.
     
"Penganugerahaan penghargaan STBM tersebut diberikan langsung Menteri Kesehatan Nila Moelek kepada Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun di Gedung Prof Sujudi, Kementerian Kesehatan hari ini," kata Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Sleman Sri Winarti di Sleman, Kamis.
     
Menurut dia, lima kabupaten lain yang meraih penghargaan diantaranya Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Kota Semarang dan kabupaten Alor.
     
"Selain Sleman, Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta juga berhasil meraih penghargaan serupa," katanya.
     
Sedangkan Wakil Bupati Slema  Sri Muslimatun mengatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan program STBM di Kabupaten Sleman tidak terlepas dari dukungan dari berbagai pihak diantaranya peran lintas sektor dan lintas program dalam pelaksanaan STBM baik di tingkatan regulasi maupun lapangan.
     
"Kami juga mengucapkan terima kasih atas upaya para fasilitator STBM di tingkat kecamatan sebagai motor penggerak sekaligus pemicu bagi masyarakat untuk berubah perilaku  dan menerapkan pilar-pilar dalam STBM serta kepada media yang mendukung penyebarluasan informasi kepada masyarakat untuk berperilaku higienis  dan sanitasi melalui rogram STBM," katanya.
   
Kementerian kesehatan memberikan penghargaan "STBM Berkelanjutan" kepada bupati/walikota atas pencapaiannya sebagai kabupaten/kota yang telah terverifikasi Stop Buang Air Besar Sembarangan/ODF (Open defecation free) berdasarkan data e-monev STBM, serta dinyatakan memiliki inovasi terbaik dalam mempertahankan kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan sekaligus dalam meningkatkan kualitas akses layanan berbasis masyarakat.
     
Penghargaan STBM berkelanjutan diberikan setiap tahun kepada enam kabupaten/kota terbaik, yang telah memiliki akses sesuai target untuk salah satu atau sebagian atau seluruh pilar STBM yaitu, Bebas Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengamanan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah Tangga dan Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga.
   
Sri Muslimatun mengatakan, Kabupaten Sleman masuk di dalam 21 Kabupaten  dan kota yang telah berkomitmen untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan.
     
"Komitmen ini ditunjukkan dengan diterbitkannya SK Bupati Sleman Nomor 124/Kep.KDH/A/2017 yang telah dideklarasikan pada  9 November 2017.
     
"Akses sanitasi di Kabupaten Sleman sampai dengan 2018 adalah sebesar 294.081 KK atau 90,51 persen menggunakan Jamban Sehat Permanen, 12.767 KK  atau  3,93 persen menggunakan Jamban Sehat Semi Permanen dan 18.068 KK  atau 5,56 persen sharing menggunakan Jamban Sehat Permanen dan Jamban Sehat Semi Permanen," katanya.
   
Ia mengatakan, sebelumnya tim verifikasi Kementerian Kesehatan telah melakukan verifikasi pada Anggota Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) diantaranya Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan Bappeda.
     
"Dilanjutkan kunjungan Lapangan Implementasi STBM di tingkatan Puskesmas (Puskesmas Sleman), Pemerintah desa (Desa Tridadi dan Desa Pandowoharjo) dan kunjungan lapangan implementasi STBM masyarakat di tingat Dusun (DusunBeteng)," katanya.
     
Menurut dia, program STBM berkelanjutan di Kabupaten Sleman tidak hanya berhenti dan sebatas dengan keberhasilan Pilar  Stop Buang Air Besar Sembarangan.
   
 "Hal ini terbukti dengan keberhasilan Kabupaten Sleman sampai Oktober 2018 sudah mendeklarasikan 12 Desa dari 86 Desa di Kabupaten Sleman Sebagai Desa  STBM yang mengimplementasikan lima Pilar STBM," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar