Peneliti : ranah privat dominasi kekerasan seksual

id sri muslimatun

Peneliti : ranah privat dominasi kekerasan seksual

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun memakai baju batik dan berhijab. ( Foto Antara/Humas Sleman)

Sleman (Antaranews Jogja ) - Peneliti "Law, Gender, and Society Research Center" Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Laras Susanti menyebutkan ranah privat mendominasi kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang masuk dalam pengaduan di Komisi Nasional Perempuan pada 2017.
     
"Ada tiga ranah kasus kekerasan seksual, yaitu ranah privat, umum, dan negara. Yang membedakan hanya pelakunya. Selama ini ranah privat mendominasi pengaduan ke Komnas Perempuan," kata Laras pada sarasehan "Saatnya Laki-laki Terlibat dalam Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan" di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa.
     
Menurut  dia, hingga 2017 jumlah kasus kekerasan pada perempuan masih sangat tinggi, Jumlahnya menembus angka 348.466 kasus.
     
"Berdasarkan data pengaduan ke Komnas Perempuan kekerasan seksual di ranah privat menjadi yang paling tinggi. Yaitu sebanyak 932 aduan atau 80 persen dari total aduan. Sementara itu, pelaku kekerasan seksual di ranah privat ini didominasi oleh pacar yaitu sebanyak 1.528 orang kemudian ayah kandung (425) dan paman (322)," katanya.
     
Ia mengatakan, kesetaraab gender dan rasa saling menghormati merupakan cara melibatkan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan seksual pada perempuan.
     
"Kesetaraan gender dan hubungan saling menghormati menjadi dasar. Namun, sering kali laki-laki merasa asing untuk bergabung dalam gerakan kesetaraan gender. Oleh karenanya, pahami juga permasalahan kenapa laki-laki tidak nyaman dalam gerakan kesetaraan gender. Selain itu kami juga menanamkan pemikiran jika laki-laki juga punya peran positif dalam kesetaraan gender," katanya.
     
Sedangkan Dosen FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Nur Hasyim mengatakan, peran laki-laki dalam pencegahan kekerasan seksual pada perempuan sangat besar.
     
"Mayoritas kekerasan perempuan dilakukan laki-laki dan biasanya dalam sebuah relasi atau hubungan, pacaran misalnya. Selain itu, kekerasan pada perempuan terjadi karena pola hubungan yang timpang dimana salah satu pasangan mendominasi," katanya.
     
Ia mengatakan, dirinya percaya laki-laki tidak dilahirkan untuk menjadi pelaku kekerasan seksual. Akan tetapi laki-laki belajar menjadi pelaku kekerasan.  "Sehingga perlu dilakukan penyadaran," katanya.
     
Nur Hasyim mengatakan, ada beberapa cara untuk mengajak laki-laki dalam kampanye antikekerasan perempuan.
     
"Mengenalkan konsep laki-laki yang menghargai, toleran, egaliter dan antikekerasan adalah beberapa diantaranya. Sadarkan laki-laki akan kekuasaan dan 'privilese' itu membuat kelompok perempuan mengalami ketidakadilan," katanya.
     
Ia meminta agar para laki-laki tidak hanya diam, karena diamnya laki-laki akan semakin melegitimasi perilaku kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh laki-laki.
     
"Diamnya laki-laki juga ikut andil dalam menyuburkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Jadi mulai sekarang hentikan itu candaan berbabu seks ke perempuan, dari yang sederhana," katanya.
     
Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan kekerasan kepada perempuan merupakan pelanggaran yang mengarah pada Hak Asasi Manusia (HAM).
     
"Adanya aktivis HAM ini bisa membangun kesadaran publik agar tidak melakukan kekerasan pada perempuan," katanya.
   
 Ia mengatakan, sarasehan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memberikan informasi terkait gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.
     
"Diharapkan sarasehan ini bisa menjadi upaya bersama untuk berkomitmen dalam perlindungan terhadap perempuan dan penghapusan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Ini membutuhkan kerjasama yang solid dari kita semua," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar