Dirut KSEI Friderica Widyasari raih doktor di UGM

id kustodian

Dirut KSEI Friderica Widyasari raih doktor di UGM

Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi seusai mengikuti ujian terbuka promosi doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu. (Foto Antara)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu.

Perempuan kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 28 November 1975 itu berhasil mempertahankan penelitian disertasinya yang berjudul "Analisis Dampak Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan dan Risiko pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia" dalam ujian terbuka promosi doktor di depan tim penguji.
     
Friderica mengatakan penelitian itu ditujukan untuk menguji pengaruh struktur kepemilikan perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap kinerja dan risiko perusahaan.
     
"Dengan menggunakan data perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI selama 2011-2015 dan alat analisis 'robust', penelitian itu secara empiris menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara konsentrasi kepemilikan perusahaan pada satu pihak tertentu dengan nilai perusahaan," katanya.
     
Artinya, menurut dia, argumen ekspropriasi oleh pemilik mayoritas dibuktikan dalam penelitian itu bahwa semakin besar hak kendali perusahaan (hak voting) pada satu pihak tertentu (pihak pengendali) akan memperbesar risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas.
     
"Namun demikian, konsentrasi kepemilikan tidak terbukti mempengaruhi risiko perusahaan," kata mantan Direktur Pengembangan BEI itu.
     
Terkait dengan identitas pengendali perusahaan, kata dia, penelitian itu membuktikan bahwa identitas pemilik pengendali memiliki pengaruh yang berbeda terhadap nilai dan risiko perusahaan.
     
Misalnya, perusahaan yang dikendalikan pemerintah cenderung memiliki kinerja yang lebih baik dibanding perusahaan yang dikendalikan oleh non-pemerintah. Sementara itu, kepemilikan oleh individu justru menurunkan nilai perusahaan.
     
Ia mengatakan, untuk potensi ekspropriasi oleh pemilik ultimat, dengan menelusuri struktur kepemilikan perusahaan-perusahaan itu lebih jauh hingga sampai pemilik ultimatnya, secara empiris penelitian itu menunjukkan bahwa semakin besar potensi ekspropriasi, yang diukur dengan perbedaan antara hak kendali dan hak arus kasnya, maka semakin besar pula risiko total perusahaan dan semakin rendah nilainya.

"Dengan bukti empiris penelitian itu, kebijakan yang dapat disarankan adalah meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan untuk mengurangi kesenjangan informasi antara pemegang saham mayoritas dengan minoritas, khususnya keterbukaan informasi mengenai struktur kepemilikan dan kepemilikan ultimatnya serta kebijakan yang melindungi investor minoritas," kata Friderica. 
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar