Perbaikan talut Juminahan direncanakan mulai akhir triwulan dua

id Talut, Juminahan, Sungai Code

Perbaikan talut Juminahan direncanakan mulai akhir triwulan dua

Kerusakan talut Juminahan di bantaran Sungai Code Yogyakarta (Foto Antara / Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Pekerjaan fisik perbaikan talut Juminahan di bantaran Sungai Code Yogyakarta yang mengalami kerusakan sejak akhir 2017 direncanakan dimulai akhir triwulan dua 2019.

“Saat ini, kami sedang memproses dokumen untuk lelang di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Yogyakarta. Ada beberapa dokumen yang harus disempurnakan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi di Yogyakarta, Jumat.

Meskipun belum masuk dalam lelang, namun Hari memastikan jika waktu yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaan perbaikan talut di Juminahan tersebut masih cukup. Pekerjaan perbaikan ditargetkan dalam diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat bulan.

“Proses lelang membutuhkan waktu sekitar satu bulan dan harapannya tidak ada kendala apapun sehingga perbaikan talut sudah bisa dilakukan akhir triwulan kedua,” katanya.

Selain itu, Hari mengatakan, pekerjaan perbaikan talut Juminahan tersebut akan lebih baik jika dilakukan setelah musim hujan sehingga hambatan pekerjaan akibat gangguan cuaca bisa diminimalisasi.

“Kami pun harus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk menyeleraskan pekerjaan perbaikan talut dengan penataan permukiman yang ada di atasnya. Penataan permukiman menjadi kewenangan DPUPKP,” katanya.

Penyelerasan pekerjaan perbaikan talut dengan penataan permukiman perlu dilakukan agar pekerjaan berjalan simultan dan tidak ada pekerjaan yang terpaksa diulang sehingga tidak efektif dan justru membutuhkan waktu lebih lama.

Perbaikan talut Juminahan yang rusak akibat dampak siklon tropis Cempaka pada akhir November 2017 tersebut sepenuhnya didanai menggunakan dana dari pusat dengan nilai sekitar Rp4 miliar.

Panjang talut Juminahan yang harus diperbaiki mencapai 135 meter dengan tinggi sekitar lima meter. Jika tidak segera diperbaiki, maka kerusakan dikhawatirkan akan semakin lebar. “Saat pertama kali ambrol usai terkena Badai Cempaka, panjang talut yang rusak kurang dari 100 meter. Namun, kerusakan menjadi semakin luas,” katanya.

Dana yang dialokasikan, lanjut Hari, dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperbaiki kerusakan talut. “Semuanya akan tertangani,” katanya.

Saat ini, upaya sementara yang dilakukan untuk mengurangi potensi kerusakan yang semakin meluas akibat tergerusnya tanah, talut ditutup menggunakan terpal. 

 

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2024