Disdikpora Gunung Kidul dorong guru meningkatkan pengetahuan

id Guru di Gunung Kidul

Kepala Disdikpora Kabupaten Gunung Kidul Bahron Rosyid. (Foto ANTARA/Mamiek)

Gunung Kidul (ANTARA) - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong guru di wilayah itu untuk selalu meningkatkan pengetahuannya, sehingga di era revolusi 4.0 tidak ketinggalan.

Kepala Disdikpora Gunung Kidul Bahron Rosyid di Gunung Kidul, Jumat mengatakan, pemerintah baik daerah maupun pusat terus mendorong agar para guru belajar dan mengikuti pelatihan agar pengetahuannya semakin meluas.

Selain itu pemerintah pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengirimkan ribuan guru berpretasi ke luar negeri, diantaranya berasal dari Gunung Kidul.

"Mereka dikirim ke sejumlah negara. Durasinya paling sedikit tiga minggu di luar negeri. Tujuannya mereka dapat menerapkan sistem pembelajaran yang sekiranya cocok di Gunung Kidul," katanya.

Dia mengatakan dengan pengalaman diluar negeri mendapatkan pengalaman dalam sistem pembelajaran di era revolusi industri 4.0.

"Walaupun waktunya tidak lama, tapi saya yakin akan ada manfaat yang bisa diambil para guru tersebut," katanya.

Bahron mengatakan di Gunung Kidul ada tuga orang guru SMP yang dikirim yakni Imam Wicaksono dari SMP 3 Panggang ke Jepang, Laily Amin Fajariyah dari SMP 5 Panggang ke Belanda dan Antonius Sapto Wibowo asal SMP 4 Playen dikirim ke Tiongkok.

Pendidik yang akan ke luar negeri itu, merupakan guru-guru berprestasi. Sengaja dikirim ke luar negeri agar wawasan dan pengetauan global dalam dunia pendidikan meningkat.

Dijelaskannya, Imam Wicaksono berprestasi di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

Laily dari SMP 5 Panggang jawara Olimpiade Guru Nasional mata pelajaran bahasa inggris. Antonius Sapto Wibowo, guru mata pelajaran kesenian itu dikirim ke Tiongkok lantaran berprestasi di bidangnya.

"Ketiga guru yang dikirim ke luar negeri karena prestasi bukan dari perkotaan, melainkan sekolah pinggiran," katanya.

Salah seorang guru, Laily mengatakan program kunjungan sekolah selama 21 hari. Anak-anak di sana mandiri karena menganut adaptif otonomi anak. Dalam satu waktu, guru mengajar banyak mata pelajaran.

"Metode pembelajaran di sana mengutamakan adaptif otonomi anak. Kami berupaya mengadopsi metode tersebut untuk diterapkan di Gunung Kidul meski tidak sepenuhnya," katanya.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar