Facebook membatasi fitur Live setelah penembakan Selandia Baru

id facebook,penembakan selandia baru

Facebook membatasi fitur Live setelah penembakan Selandia Baru

FILE PHOTO: Stiker-stiker logo Facebook di tampilkan di konferensi developer F8 Facebook Inc di San Jose, California, Amerika Serikat, 30 April, 2019. REUTERS/Stephen Lam/File Photo (reuters.com)

San Francisco (ANTARA) - Facebook Inc mengatakan  pada Selasa telah memperketat peraturan terkait fitur siaran langsung menjelang pertemuan para pemimpin dunia yang bertujuan untuk membatasi kekerasan online setelah peristiwa pembantaian di Selandia Baru.

Seorang penembak membunuh 51 orang di dua masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret sambil  menyiarkan langsung penyerangan tersebut di Facebook. Peristiwa itu merupakan penembakan terburuk dalam suasana tenang di Selandia Baru dan memicu munculnya seruan bagi perusahaan teknologi itu untuk berbuat lebih banyak dalam memerangi ekstrimisme pada layanan mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip reuters, Facebook mengatakan  menerapkan sebuah kebijakan "one-strike" untuk penggunaan Facebook Live, yang membatasi sementara akses bagi orang yang terkena tindakan disiplin karena melakukan pelanggaran paling serius terhadap peraturan perusahaan tersebut di situs manapun.

Pelanggar pertama kali akan dilarang menggunakan fitur Live untuk jangka waktu tertentu, kata perusahaan tersebut. Mereka juga memperluas cakupan  pelanggaran yang akan memenuhi kriteria penangguhan one-strike.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan  perubahaan tersebut ditujukan pada  komponen utama  sebuah inisiatif, yang dikenal dengan "Panggilan Christchurch", dia memimpin inisiatif ini untuk menghentikan penyebaran kekerasan secara online.

"Keputusan Facebook untuk membatasi siaran langsung merupakan langkah pertama yang bagus untuk membatasi aplikasi tersebut digunakan sebagai alat bagi teroris, dan menunjukkan Panggilan Christchurch sedang dilaksanakan," katanya dalam sebuah email dari juru bicaranya.

Facebook tidak menjelaskan pelanggaran mana yang termasuk dalam kebijakan one-strike atau berapa lama penangguhan akan berakhir namun seorang juru bicara mengatakan berdasarkan peraturan baru tersebut tidak mungkin bagi penembak tersebut untuk menggunakan fitur Live di akunnya.

Mereka berencana memperluas pembatasan ke bagian lain dalam minggu-minggu ke depan, dimulai dengan mencegah orang yang sama membuat iklan di Facebook.

Perusahaan tersebut juga menyatakan akan mendanai penelitian di tiga universitan tentang teknik untuk mendeteksi media yang termanipulasi, di mana  sistem Facebook berusaha untuk melakukannya  setelah serangan tersebut.
Baca juga: Vidi Aldiano mengendalikan konten medsos demi panutan
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar