Keuskupan Agung Semarang bentuk tim relawan bencana di Gunung Kidul

id Keuskupan Agung Semarang

Manager Program DRR Devolepment Yayasan Karina Keuskupan Agung Semarang Suster Huberta foto bersama tim relawan tanggap bencana Kabupaten Gunung Kidul, Minggu (19/5). (ANTARA/Dok. Gereja Paroki Wonosari)

Gunung Kidul (ANTARA) - Yayasan Karina Keuskupan Agung Semarang membentuk tim relawan tanggap bencana di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang siap membantu pemerintah kabupaten setempat dalam menangani potensi bencana kekeringan.

Manager Program DRR Devolepment Yayasan Karina KAS Suster Huberta FSGM di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan Relawan Gunung Kidul mewadai relawan umat Paroki Santo Petrus Paulus Kelor Karangmojo, umat Paroki Santo Yusuf Bandung, Playen, dan umat Paroki Petrus Kanisius Wonosari dalam koordinasi langsung Yayasan Karina KAS untuk berbagai aksi sosial kemanusiaan.

"Anggota tim relawan sebanyak 47 orang yang berasal dari berbagai kecamatan di Gunung Kidul yang mulai dikenalkan spiritualitas mendasar penanganan dan pengurangan risiko bencana," kata Suster Huberta di Aula Santo Ignatius Loyola Gereja Paroki Wonosari.

Ia mengatakan beberapa hal yang menjadi pembahasan dalam pertemuan perdana relawan tanggap bencana Gunung Kidul, yakni berbagi pengalaman masing-masing pribadi relawan dalam keterlibatan penanganan kebencanaan, baik pengelolaan posko, dapur umum, pencarian korban, penggalangan bantuan, pascabencana, rekonstruksi, hingga pelaporan secara transparan bagi masyarakat umum.

"Lembaga yang kini juga tengah melayani para pengungsi korban gempa Palu in,i ke depan juga berkepentingan menumbuhkan semakin luas kepedulian dan kerelawanan tingkat awam Katolik, hingga mengoordinasi gerak pelayanan kemanusiaan," katanya.

Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari F.X. Endro Tri Guntoro menyambut baik langkah rayon tiga paroki di Gunung Kidul bersama Karina KAS.

Dia mengatakan gerakan kepedulian dalam menangani kebencanaan di internal gereja selama ini masih bersifat spontan, insidental, dan "keroyokan". Hadirnya Karina KAS diharapkan menjangkau peningkatan kemampuan para relawan.

Ia mengatakan di Kabupaten Gunung Kidul terdapat beberapa wilayah yang memang rentan bencana. Pada musim kemarau, kekeringan atau krisis air bersih menjadi persoalan rutin setiap tahun.

"Wilayah Gunung Kidul menjadi semakin penting diperhatikan karena dalam dua tahun terakhir bencana banjir juga menimpa beberapa pemukiman masyarakat yang harus mengungsi," katanya.

Ia juga mengemukakan tentang gerakan berbelas kasih menyikapi permasalahan bencana.

Gerakan itu, kata dia, harus mulai memikirkan upaya-upaya pengurangan risiko bencana sebagai tanggung jawab semua pihak, seperti gereja, masyarakat, dan pemerintah.

Ia juga menyambut baik awam Katolik yang bergabung dalam tim relawan tanggap bencana dari wilayah utara Gunung Kidul yang menjadi teritori wilayah Paroki Kelor maupun Paroki Bandung.

Pasalnya, katanya, kekurangan air bersih secara rutin tahunan itu juga merambah zona utara, seperti wilayah Gedangsari, Ngawen, Patuk dan Nglipar, Semin, Di daerah-daerah itu, setiap tahun menjadi sasaran program penyaluran air bersih oleh tim kerja di tingkat paroki.

"Tugas tim relawan tanggap bencana ini juga menjadi salah satu wujud panggilan kerasulan bagi awam katolik di tengah lingkungan masyarakat majemuk," ujar Endro.
Baca juga: BMKG: Gunung Kidul alami hari tanpa hujan cukup lama
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar