Kulon Progo memasuki era kemandirian ekonomi berdedikari berbasis lokal

id Kemandirian ekonomi,Kulon Progo,sertijab bupati kulon progo

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kulon Progo Hasto Wardoyo . (Dok Ist Humas Setda Kulon Progo/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki era kemandirian ekonomi berdedikari dengan pemberdayaan potensi lokal dan gerakan "Bela Beli Kulon Progo".

Informasi dihimpun, Senin, program kemandirian ekonomi dirintis Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Wabup saat itu Sutedjo sejak tahun 2012.

Sebelum 2012, pertumbuhan ekonomi Kulon Progo pada kisaran 4,2 persen. Namun sejak kebijakan Bela Beli Kulon Progo, ekonomi Kulon Progo secara bertahap tumbuh hingga dua digit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga tri wulan pertama 2019 mencapai 10,6 persen.

Pertumbuhan ekonomi ini tidak terlepas pada pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta yang beroperasi pada 6 Mei 2019. Namun, pertumbuhan ekonomi ini sudah memiliki pondasi kuat, yakni Bela Beli Kulon Progo yang meliputi Batik Geblek Renteng, Beras Menoreh (Menor), Beras Sehat, AirKu, Toko Milik Rakyat (ToMira).

Di bidang lain, pasangan Hasto-Sutedjo menggiatkan program percepatan pembangunan infrastruktur kawasan utara, melalui program Bedah Menoreh yang diharapkan membedah kemiskinan, pariwisata, budaya, dan ekonomi warga. Selain itu, sebagai penghubung Bandara Internasional Yogyakarta dengan KSPN Borobudur.

Namun, hari ini, Senin, 1 Juli 2019, sekitar 15.30 WIB, Hasto Wardoyo dilantik sebagai Kepala BKKN. Hasto masih memiliki pekerjaan rumah yang belum terealisasi yakni pembangunan jalur rel kereta api bandara dari Stasiun Kedundang sampai BIY, embarkasi haji, pembangunan Tanjung Adikarto, Pasir Besi, Jogja Agro Tehnopark, pusat pemerintahan Kulon Progo, dan RSUD Wates bertaraf internasional yang harus diselesaikan hingga akhir masa jabatannya pada Agustus, 2022.

"Sebenarnya, kami sedih ya ditinggal Hasto, tapi karena negara membutuhkan, ya kami sulit untuk istilahnya menahan untuk tidak pergi," kata Sutedjo di Kulon Progo, Senin.

Sutedjo mengaku berat melepaskan Hasto. Kontribusi Hasto di Kulonprogo menurutnya sangat besar. Banyak program dan inovasi yang dicetuskan dokter kebidanan itu berdampak positif kepada daerah yang dipimpinnya. Akan tetapi saat, masa pengabdian mereka masih tiga tahun lagi, dan Kulonprogo sedang dalam masa pembangunan, Hasto harus pergi. Inilah yang melatarbelakangi kesedihan Sutedjo.

Selain itu, kesedihan Sutedjo juga dipengaruhi faktor kedekatan antara dirinya dengan Hasto. Sebab, pasangan ini sudah bersama-sama menahkodai kapal bernama Kulon Progo selama bertahun-tahun.

Semua bermula delapan tahun silam, tepatnya, Rabu 24 Agustus 2011. Pasangan ini, resmi dikukuhkan menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo periode 2011-2016. Mereka menggantikan bupati dan wakil bupati sebelumnya, Toyo Santoso Dipo dan Mulyono yang telah purna mengabdi. Periode kedua, Oktober 2017 hingga 2022.

Dalam Pemilukada 2017 Kulon Progo, Hasto Tedjo diusung sejumlah partai, yakni PDIP, PAN, Golkar, PKS, Nasdem, dan Hanura. Pasangan ini berhasil memperoleh 85 persen suara, atau sekitar 220.643 pemilih. Unggul dari perolehan suara lawannya, yakni pasangan calon Zuhadmono Azhari-Iriani Pramastuti, yang hanya mendapat 36.874 suara. Adapun, suara sah keseluruhan di Kulon Progo saat itu berjumlah 257.517 suara.

Bidang sosial
Berdasarkan Data Bappeda Kulon Progo, kebijakan lewat program Bela dan Beli Kulon Progo, ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulon Progo, dari semula 22,54 persen pada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2018.

Inovasi pasangan ini tak sampai di situ saja. Adapula program bedah rumah yang saban Minggu dilakukan. Lewat program ini hunian tak layak milik warga kurang mampu direnovasi. Ini juga sebagai upaya menekan jumlah rumah tak layak huni di Kulon Progo yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Adapun, tiap tahunnya, pemkab lewat DPUPKP merehab sedikitnya 1.000 unit RTLH.

Dana yang terkumpul sebesar Rp7 miliar pertahun yang digunakan untuk bedah rumah dan kegiatan sosial lain ini berasal dari sumbangan ASN dengan pemotongan gaji setiap bulannya.

Begitu juga di bidang pendidikan, Perda Pendidikan Karakter. Perda ini gabungan nasionalis religius dan berbasis budaya. Di sekolah, siswa wajib Katam Alquran, di sisi lain, diajarkan nilai-nilai Pancasila dengan bergotong royong, dengan tidak meninggalkan budaya Kemantaraman. Anak didik, harus religius berkepribadian Pancasila dengan budaya Kemantaraman.

Hasto-Sutedjo merupakan simbol kembangkitan ekonomi dan sosial berbasis ideologi di Kulon Progo. Putra daerah ini sudah menjabat sebagai Kepala BKKN. Selamat bertugas, semoga amanah baru dapat diemban dengan baik dan sukses.

Baca juga: Bupati Hasto Wardoyo awal Juli dilantik menjadi Kepala BKKBN
Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar