UGM Yogyakarta selanggarakan International Summer Course 2017

id UGM

Universitas Gadjah Mada (Foto Istimewa) (istimewa)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada menyelenggaran International Summer Course 2017 di Puskesmas I Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Koordinator Lapangan International Summer Course 2017 Abdul Wahab di Kulon Progo, Selasa, mengatakan kegiatan International Summer Course 2017 melibatkan kerja sama lintas disiplin antara Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Kedokteran Gigi UGM untuk meningkatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

"Kami berharap peserta International Summer Course 2017 mendapatkan pemahaman secara komprehensif terkait kesehatan dan pelayanan kesehatan masyarakat," kata Abdul.

Selanjutnya, kata Abdul, kegiatan International Summer Course 2017 menjadi laboratorium outreach activity "community health" bagi peserta program studi lintas disiplin dengan menggandeng lembaga internasional, filantropi, serta aliansi strategis Academic Health System (AHS) meliputi RS jejaring pendidikan, institusi pendidikan kesehatan, maupun fasilitas layanan kesehatan primer.

"Lebih dari itu, adanya program unggulan ini diharapkan mampu memberikan advokasi dalam peningkatan layanan kesehatab masyarakat sejalan dengan sistem jaringan nasional," katanya.

Abdul mengatakan International Summer Course 2017 dilaksanakan mulai dari 30 Oktober hingga 17 November yang diikuti 59 peserta, terdiri dari Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Gigi UGM, Cyberjaya Malaysia, University Of Malaya, Universitu Sain Malaysia, International Medical University Malaysia, Tubingen University, dan VU University Medical Center.

Peserta ditugaskan ke komunitas untuk melakukan kegiatan pelayanan di puskesmas, dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar, seperti posyandu, yandu lansi, penyuluhan, konseling gizi, puskesling dan kegiatan kesehatan di sekolah-sekolah.

"Tadi, kami kerja sama dengan Puskesmas I Pengasih memberikan imunisasi antitetanus di SD Negeri Kutogiri dan Posyandu Sido Waluyo Desa Sidomulyo, Pengasih," katanya.

Terkait alasan memilih Kabupaten Kulon Progo sebagai lokasi International Summer Course 2017, Abdul mengatakan wilayah ini memiliki berbagai macam kasus kesehatan. Kulon Progo menjadi daerah rujukan di seluruh Indonesia karena sistem pelayanan kesehatannya.

"Di Kulon Progo ada berbagai inovasi pelayanan kesehatan dan sistem kesehatan yang dikembangkan. Sehingga menarik menjadi pusat kajian dan pendidikan," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Bambang Haryatno mengatakan dengan keterbatasan anggaran, tapi Pemkab Kulon Progo berkomitmen mengutamankan permasalahan kesehatan. Seluruh puskesmas di Kulon Progo, sebanyak 21 unit sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), salah satunya Puskesmas I Pengasih.

"Kulon Progo dikenal daerah miskin, tapi pelayanan kesehatannya menyebar di seluruh kecamatan. Di Kulon Progo angka harapan hidup mencapai 75 tahun. Daerah miskin, tapi harapan hidupnya tinggi. Hal ini tentu sangat menarik," katanya.

Kepala Puskesmas I Pengasih Iting Mamiri mengatakan pihaknya memberikan berbagai pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan yang diberikan yakni pemeriksaan kesehatan anak hinhga lansia, peningkatan promosi, melakukan langkah preventif kesehatan masyarakat.

Kegiatan International Summer Course 2017 bertujuan supaya mahasiswa belajar bagaimana memahi persoalan kesehatan dan kehidupan masyarakat. Diharapkan kegiatan jni, menjadi bekal mereka saat melaksanakan tugas.

"Kami sangat menyambut baik kegiatan International Summer Course 2017. Namun demikian, ada atau tidaknya kegiayan tersebut, kami secara rutin memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, baik datang ke tempat warga ataupun pelayanan di puskesmas," katanya.

Ia mengakui persoalan kesehatan yang banyak ditemui petugas kesehatan adalah penyakit hipertensi yang jumlahnya mencapai 400 kasus setiap bulan. Kasus hipertensi ini biasanya menyerang lansia yang usianya di atas 60 tahun.

Hipertensi disebabkan oleh pola makan dan pola hidup yang kurang bagus, serta masalah psikologis keluarga atau persoalan keluarga.

"Kami melalui kader memberikan penyuluhan supaya menjaga pola makan dan pola hidup sehat. Kami juga memberikan obat yang mereka butuhkan," katanya.
KR-STR
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar