Sejumlah ruas jalan di Yogyakarta masih rawan genangan

id Genangan, musim hujan

Sejumlah ruas jalan di Yogyakarta masih rawan genangan

Ilustrasi Genangan air di ruas jalan (antarafoto.com)

Yogyakarta  (Antaranews Jogja) - Sejumlah ruas jalan di Kota Yogyakarta masih berpotensi mengalami genangan saat hujan lebat yang disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari kapasitas drainase yang tidak terlalu besar hingga tertutupnya saluran akibat sampah. 
   
“Ruas jalan yang masih berpotensi mengalami genangan tersebar di beberapa lokasi. Salah satu genangan yang cukup dalam berpotensi terjadi di ruas Jalan Mondorakan dan Kemasan. Kedalaman bisa mencapai sekitar 30 cm,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Aki Lukman di Yogyakarta, Kamis.
   
Menurut dia, kedua ruas jalan yang berada di kawasan cagar budaya Kotagede tersebut hampir setiap musim hujan selalu tergenang karena kapasitas drainase relatif kecil dibanding volume air yang masuk.
   
Oleh karena itu, lanjut Aki, upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi genangan di ruas jalan tersebut adalah memperbesar drainase agar sesuai dengan volume air yang masuk. Revitalisasi drainase diusulkan dibiayai dengan dana keistimewaan karena berada di kawasan cagar budaya.
   
Selain itu, potensi genangan juga terjadi di Jalan Ipda Tut Harsono seperti di simpang empat sisi utara kantor DPRD Kota Yogyakarta. Genangan di ruas jalan tersebut lebih disebabkan banyaknya sampah daun dari pohon-pohon perindang yang menutup lubang saluran air hujan.
   
Oleh karena itu, lanjut Aki, upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi potensi genangan adalah dengan pelumpuran atau membersihkan sampah serta menambah jumlah lubang saluran air hujan agar air cepat mengalir.
   
Genangan juga masih berpotensi terjadi di Jalan Kusumanegara sisi barat, sirip-sirip jalan di Jalan Babaran seperti Celeban dan Jalan Soepomo serta Jalan Wardani. 
   
Aki menyebut, sudah menurunkan tim untuk melakukan pelumpuran secara rutin sebelum musim hujan tiba untuk meminimalisasi potensi genangan.
   
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Agus Sudaryanto menyebut, musim hujan di Yogyakarta, Bantul, Sleman bagian selatan dan Kulon Progo bagian selatan dimulai pada dasarian kedua November
   
“Pada awal musim hujan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu intensitas hujan yang turun. Biasanya hujan turun dengan sangat deras tetapi hanya dalam waktu singkat. Tipe hujan yang seperti ini yang terjadi di Yogyakarta dalam beberapa hari terakhir,” katanya.
   
Meskipun hanya berlangsung singkat, namun Agus meminta agar masyarakat tetap waspada karena biasanya hujan juga disertai angin kencang. “Biasanya, hujan yang sangat lebat pada awal musim hujan disertai dengan angin kencang dan bisa berdampak buruk mulai dari banjir, pohon tumbang, hingga tanah longsor,” katanya.
   
Saat ini, intensitas curah hujan masih berkisar 100 milimeter per hari dan dimungkinkan bertambah hingga puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Januari dan Februari 2019.
   
“Daerah-daerah cekungan rawan banjir, sedangkan daerah yang berupa lereng harus waspada terhadap potensi longsor. Waspada jika sebelumnya tebing sudah retak karena air hujan akan mudah masuk dan tanah menjadi labil hingga longsor,” katanya. 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar