Sleman siap beri bantuan mesin pengering genting

id genting godean

Perajin Genting Godean, Kabupaten Sleman. (Foto Antara/ Victorianus Sat Pranyoto)

Sleman (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap memberikan bantuan alat pengering untuk sentra industri Genting Godean setelah industri berbasis masyarakat ini memiliki badan hukum.

"Sentra industri Genting Godean harus membentuk badan hukum terlebih dulu, karena bantuan yang sifatnya hibah hanya bisa pada kelompok usaha masyarakat yang sudah berbadan hukum," kata Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani di Sleman, Kamis.

Sebelumnya, perajin Genting Godean di Kecamatan Godean dan Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman yang tergabung dalam Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal Sejahtera mengharapkan ada bantuan mesin pengering karena pada musim hujan mereka kesulitan mengeringkan cetakan genteng sebelum proses pembakaran.

Menurut dia, pihaknya selama ini telah mendorong sentra industri Genting Godean untuk membentuk badan hukum agar bisa lebih leluasa dalam menyalurkan bantuan hibah maupun pendampingan lainnya.

"Hal tersebut juga untuk mempermudah dalam akses permodalan," katanya.

Ia mengatakan, selama ini pihaknya juga telah melakukan pendampingan kepada sentra industri Genting Godean, terutama untuk melindungi produk dari beredarnya genting luar Godean di wilayah Sleman dan mengaku sebagai genting produk Godean.

"Penguatan kelembagaan sudah kami lakukan sejak 2016 hingga dengan melakukan pengukuhan sentra industri," katanya.

Endah mengatakan, pengukuhan disertai dengan pendampingan dan kemudian difasilitasi dengan pembuatan merek kolektif Genting Ga pada akhir 2017.

"Kemudian pada 2018, kami juga menggandeng Dinas Koperasi dan UKM Sleman untuk pembentukan badan hukum koperasi," katanya.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Sleman Dwi Wulandari menyebutkan kendala yang dihadapi perajin Genting Godean bukan hanya soal pencatutan nama, namun juga soal bahan baku tanah yang mulai menipis karena bukit-bukit bahan baku tanah liat dipakai untuk perumahan.

“Terkait pencatutan nama, ke depan kami akan mengoptimalkan lagi merek kolektif tersebut. Begitu juga untuk standarisasi produk Genting Godean," katanya.

Ia mengatakan, secara kualitas, Genting Godean memang berada sedikit dibawah genting Kebumen, Jawa Tengah.

"Tetapi dibandingkan dengan genting Muntilan, Genting Godean lebih bagus kualitasnya," katanya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Genting Sembada Manunggal Sejahtera Suroto mengatakan, masuknya produk genteng dari luar daerah dan mengatasnamakan genting Godean semakin banyak.

"Genting dari luar daerah itu dijual sekitar Rp700 hingga Rp800 per biji. Harga tersebut setengahnya dari Genting Godean," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut telah berlangsung sejak 2006, setelah kejadian gempa di Bantul. Dimana kebutuhan akan genting meningkat.

"Karena tidak bisa mencukupi akhirnya ambil dari Magelang, Jawa Tengah," katanya.

Ia mengatakan, setelah itu lambat laun para makelar genting lebih memilih produk dari Magelang atau daerah lain. Karena harga yang ditawarkan lebih murah.

"Tapi mereka mengaku genting itu dari Godean, padahal kualitasnya berbeda," katanya.

Ia mengatakan, selain itu saat ini bahan baku genting berupa tanah liat juga sulit didapatkan. Hal itu karena saat ini sudah banyak bukit yang dijual dan beralih fungsi menjadi perumahan.

"Saat ini, bahan baku yang ada didapatkan dari Kulon Progo yang dicampur dengan tanah liat dari Godean. Jadi memang agak beda kualitasnya," katanya.

Suroto mengatakan, dengan kondisi demikian, saat ini jumlah pengrajin genting menurun drastis, dari semula sekitar 1.500 pengrajin saat ini hanya terisisa sekitar 600.

"Para pengrajin ini ada di Margodadi, Margoluwih, Sidorejo, Sidoluhur, dan Sidoagung," katanya.

Ia mengatakan, jumlah penjualan juga saat ini sangat menurun drastis. Dari dulu bisa sampai 70 ribu per bulan saat ini pohaknya paling banter hanya mampu menjual 30 ribu per bulan.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar