DPRD Kulon Progo desak pemkab berantas prostitusi

id DPRD Kulon Progo,Penyakit masyarakat

Anggota Fraksi PKS DPRD Kulon Progo Hamam Cahyadi (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (ANTARA) - Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendesak pemerintah kabupaten setempat memberantas penyakit masyarakat terutama prostitusi, judi togel dan minuman keras.

Anggota Fraksi PKS DPRD Kulon Progo Hamam Cahyadi di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan pemkab bersama aparat hukum agar tidak segan menindak tegas para pelaku.

"Jangan sampai masyarakat kita yang masih terlilit persoalan kemiskinan makin diperparah dengan rusaknya moral akibat praktik prostitusi yang menumpang gelap di tempat hiburan, judi togel dan peredaran minuman keras di sembarang tempat. Bupati agar berkomitmen untuk memerangi penyakit masyarakat di seluruh wilayah kulon Progo," desak Hamam.

Hamam juga mengatakan masyarakat Kulon Progo ini masih banyak warga miskin, dan rusak moralnya. Ada juga lingkungan kumuh, miskin, dan semakin tingginya kasus sosial mulai dari prostitusi tinggi, kasus togel dan peredaran minuman keras juga merajalela.

"Persoalan sosial di Kulon Progo ini cukup parah, miskin, lingkungan kumuh dan krisis moral. Persoalan ini jangan dibiarkan berlarut-larut, pemkab harus bergerak cepat," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Kulon Progo Baning Rahayujati mengatakan jumlag penderita HIV/Aids di Kulon Progo tercatat meningkat tajam belakangan ini. Pemantauan terhadap hotspot atau lokasi potensial penyebaran penyakit menular itu terus dikencangkan.

Dinas Kesehatan Kulon Progo mencatat selama 2018 lalu ada temuan kasus baru sebanyak 53 penderita meski 10 penderita di antaranya sudah meninggal dunia. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penderita hanya berkisar 25 orang saja dan di 2017 ada 30 penderita. Temuan kasus baru itu diduga juga belum sepenuhnya mengungkap angka riil jumlah penderitanya.

"Dari pemetaan yang dilakukan, Dinkes memprediksi ada sekitar 450 orang penderita HIV/Aids sedangkan yang berhasil ditemukan baru 10-15 persen saja," katanya.

Menurut dia, kasus HIV/Aids ini seperti fenomena gunung es. Meski baru sedikit kasus yang ditemukan Dinkes, sedangkan yang belum terungkap dimungkinkan masih sangat banyak.

"Target kami adalah menemukan kasusnya sekaligus mencegah resiko penularannya dengan mencari hotspot atau titik-titik yang berpotensi terjadi penularan melalui kontak darah maupun seksual," katanya.

Ia mengatakan titik kerawanan itu antara lain di tempat hiburan karaoke di wilayah Temon, Alun-alun Wates, hingga area penambangan pasir dan lainnya. Di titik rawan ini, Dinas Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) membuka konsultasi sekaligus penawaran tes secara sukarela. Setidaknya, dalam satu tahun ada 10 titik yang disasar konsultasi dan tes sukarela tersebut.

Khusus untuk kawasan penambangan pasir, terutama areal di sepanjang Subgai Progo wikayah Sentolo, Lendah, dan Galur, kerawanan penularan HIV/Aids memang cukup tinggi. Pasalnya, di tempat itu disinyalir terjadi praktek prostitusi liar di mana pada waktu tertentu kerap didatangkan pekerja seks komersil (PSK) untuk meladeni para buruh tambang tersebut.

"Kami melakukan pendampingan rutin juga dilakukan bagi kepada beresiko. Seperti kaum homoseksual, waria, penghuni rumah tahanan bahkan ibu rumah tangga yang kini juga beresiko terkena HIV AIDS. Terhadap ibu hamil, Dinkes melakukan screening agar jika mengidap HIV AIDS tidak menularkan kepada anaknya," katanya.
Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar