Dinas Kebudayaan Yogyakarta memberi penghargaan seniman dan budayawan

id Seniman,budayawan, penghargaan,yogyakarta

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Selasa (10/9/2019) memberikan penghargaan budaya kepada sejumlah seniman dan budayawan dari Kota Yogyakarta. (FOTO ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta memberikan penghargaan budaya kepada enam seniman dan budayawan yang dinilai mampu mengikuti perkembangan zaman namun tidak tercerabut dari akar budaya yang selama ini membesarkan mereka.

“Seniman dan budayawan ini memiliki wawasan ke depan untuk maju tetapi tetap melihat ke belakang yaitu pada nilai-nilai budaya Yogyakarta. Keduanya bisa berjalan dengan baik,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharsono di sela pemberian penghargaan di Yogyakarta, Selasa.

Enam seniman dan budayawan yang memperoleh penghargaan pada tahun ini adalah Bimo Wiwohatmo yang dikenal sebagai koreografer dan seniman tari, Tatik Wardiyono yang telah membintangni puluhan film dan sinetron, Trah Pujowinatan yang mampu melestarikan bangunan cagar budaya nDalem Pujowinatan, musisi Shaggydog, dan Heri Pemad yang membesarkan ArtJog, hingga seniman lawak Joened.

Ia berharap seniman dan budayawan yang memperoleh penghargaan pada tahun ini bisa semakin terpacu untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka tanpa meninggalkan unsur budaya Yogyakarta.

“Kami juga berharap agar seniman dan budayawan ini memberikan teladan ke masyarakat, terutama ke seniman-seniman muda untuk selalu konsisten dan bertanggung jawab terhadap bidang karya budaya yang mereka tekuni sesuai panggilan jiwa,” katanya.

Sementara itu, salah satu tim penilai Gandung Djatmiko mengatakan, penilaian dilakukan sejak beberapa bulan lalu. “Seniman dan budayawan yang terpilih ini adalah seniman yang berasal dan berada di Kota Yogyakarta,” katanya.

Selama penilaian, lanjut dia, tim penilai justru memperoleh banyak pengalaman berharga karena seniman dan budayawan yang terpilih memiliki karya yang baik, memberikan pengaruh pada perkembangan seni dan budaya serta bisa menjadi teladan.

Sementara itu, salah satu seniman yang memperoleh penghargaan Bimo Wiwohatmo mengatakan, penghargaan yang diterima adalah sebuah anugerah untuk menambah semangat menghasilkan karya-karya baru di masa yang akan datang.

“Tentunya, pemberian penghargaan ini akan memancing gairah melaku seni untuk terus berkreasi apalagi persaingan kreativitas di seni tari semakin ketat,” katanya.

Sedangkan untuk perkembangan seni tari di Kota Yogyakarta, lanjut Bimo, berjalan sangat dinamis dan menggembirakan karena saat ini sudah tidak ada batasan terkait ruang dan waktu untuk menampilkan kreasi tari.

“Tidak harus di panggung. Seni tari bisa ditampilkan lebih luas di mana saja atau di ruang-ruang publik. Bahkan tidak terikat dengan waktu,” kata Bimo yang rutin menggelar pentas Yogya After Midnight di Jalan Malioboro.

Bimo mengatakan, sudah mengenal seni tari klasik sejak berusia tujuh tahun namun baru mengasah kemampuannya secara serius sekitar 1980-an dengan bergabung di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiarja dan meyakini secara penuh bahwa seni tari adalah jalan hidupnya.

Meskipun menghasilkan beragam karya dan tidak dapat memutuskan karya terbaiknya, namun penari kawakan tersebut menyebut bahwa tari Blekdidot merupakan karya tari yang justru dikenal banyak orang bahkan diajarkan di TK maupun SD di sejumlah negara di Asia.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar