Potong jalur distribusi pertanian, KTNA Yogyakarta memperkuat jejaring

id KTNA,kontak tani nelayan andalan,pertanian,pangan

Potong jalur distribusi pertanian, KTNA Yogyakarta memperkuat jejaring

Penyerahan SK Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk keanggotaan di Kota Yogyakarta (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Yogyakarta yang beranggotakan tujuh asosiasi petani dan pengolah produk pertanian berupaya meningkatkan jejaring antaranggota, bahkan hingga ke kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satunya untuk memotong jalur distribusi produk pertanian.



“Dengan penguatan jejaring ini, ada jalur yang bisa kami lewati yaitu tidak lagi melalui pedagang. Produk pertanian dengan kualitas baik bisa dibeli dengan harga yang lebih terjangkau karena berasal dari petani langsung,” kata Ketua KTNA Kota Yogyakarta Atik Susilowati di sela penyerahan Surat Keputusan KTNA Yogyakarta di Yogyakarta, Rabu.



Menurut dia, efisiensi harga yang bisa ditekan dengan cara perluasan jejaring tersebut cukup tinggi hingga 50 persen.



Sejumlah produk pertanian yang bisa dinikmati pengolah makanan dengan harga lebih rendah tersebut di antaranya kacang tanah, jambu, jagung, dan kacang panjang. “Dengan demikian, pengolah makanan pun bisa menikmati keuntungan yang lebih baik,” katanya.



Di Kota Yogyakarta, tujuh asosiasi yang tergabung dalam KTNA di antaranya adalah asosiasi tanaman hias, sayuran, hidroponik, tabulampot, pengolah ikan, pengolah produk pertanian serta asosiasi kelompok usaha ikan.



“Untuk tahun ini, kami pun akan berupaya memperbanyak pelatihan guna peningkatan kapasitas. Petani di Kota Yogyakarta harus pintar supaya pertanian di Yogyakarta semakin maju meskipun lahannya sempit,” katanya.



Atik mengatakan, hasil pertanian di Kota Yogyakarta berpotensi memiliki harga jual yang lebih tinggi karena tidak dijual untuk kebutuhan konsumsi saja tetapi bisa dijual untuk kebutuhan estetika.



“Sayuran tidak ditanam secara konvensional di lahan pertanian tetapi menggunakan metode hidroponik atau vertikultur. Kami pun menjual langsung dengan pot yg digunakan. Jadi, ada unsur estetikanya,” katanya.



Sementara itu, Ketua KTNA DIY Sumali Citro Wibowo mengatakan bahwa organisasi tersebut lebih bersifat sebagai organisasi sosial. “Yang kami lakukan adalah membangun jejaring dan kemitraan,” katanya.



Sedangkan Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, pengembangan pertanian di Kota Yogyakarta dihadapkan pada tantangan berupa terbatasnya lahan pertanian sehingga perlu dilakukan inovasi.



“Dalam dua tahun terakhir, kami menggencarkan pembentukan kampung sayur dan budidaya lele cendol. Sekarang, sudah ada sekitar 80 kampung sayur yang terbentuk,” katanya.



Keberadaan puluhan kampung sayur tersebut tidak hanya ditujukan pemenuhan kebutuhan pangan warga tetapi diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan juga terciptanya kelestarian lingkungan.



“Dari lahan pekarangan, warga bisa memenuhi kebutuhan pangan. Upaya ini juga membantu mengendalikan laju inflasi karena warga tidak lagi tergantung dengan pasar,” katanya.



Ia pun berharap petani atau pengelola kampung sayur juga meningkatkan estetika dalam menanam sayur mayur sehingga beragam sayuran tersebut dapat digunakan untuk menghias ruangan.



“Kalau ada pertemuan atau seminar, biasanya yang digunakan sebagai hiasan adalah bunga atau tanaman hias lain. Saya justru berharap, sayur mayur pun bisa digunakan untuk menghias ruangan,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar