Merawat fesyen batik tetap eksis di tengah pandemi COVID-19

id Batik,Sogan,Eksis,Pandemi,Yogyakarta

Merawat fesyen batik tetap eksis di tengah pandemi COVID-19

Pemilik Sogan Batik Rejodani Iffah Maria Dewi saat membuat desain busana di sanggarnya di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (ANTARA FOTO/Luqman Hakim)

Meski penjualan sempat terjun bebas, puluhan desain busana batik tetap tercipta di kala pageblug tengah melanda Tanah Air
Yogyakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 tidak membuat desainer busana batik asal Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Iffah Maria Dewi berhenti berkarya.

Meski penjualan sempat terjun bebas, puluhan desain busana batik tetap tercipta di kala pageblug tengah melanda Tanah Air.

Puluhan desain itu dikelompokkan menjadi empat tema koleksi yang salah satunya ia beri judul “ayem ayom”.

“Ayem ayom” dimaksudkan sebagai pengingat, khususnya bagi kaum perempuan agar senantiasa menjadi “ayu, ayom, ayem, dan tentrem” (ayu, mengayomi, tenang, dan tenteram) menghadapi kemelut apa pun dalam kehidupan duniawi, termasuk menghadapi pandemi ini.

Bagi Iffah, desain serta motif busana batik tak sekadar urusan keindahan. Lebih dari itu, harus mampu memotivasi para penggunanya saat menghadapi situasi krisis seperti saat ini.

"Motif serta desain bagi saya adalah media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan," ujar perempuan yang telah merintis usaha batik sejak 2002 ini.

Penciptaan motif serta desain-desain baru juga salah satu cara yang ditempuh pendiri "Sogan Batik Rejodani" ini untuk menggaet minat dan selera  masyarakat.

Untuk bisa bertahan di tengah pandemi, diakui Iffah, inovasi serta kreativitas tak bisa dinomorduakan. Keduanya menjelma menjadi rukun utama guna menjaga kualitas seiring upaya efisiensi bahan pembuatan busana batik.

Menurut perempuan yang namanya sempat melejit lewat karyanya Jaziratul Muluk di Jogja Fashion Week 2016 ini, upaya efisiensi dengan mengurangi belanja bahan baku mau tidak mau harus dilakukan. Tujuannya, untuk menekan harga jual busana batik di pasaran agar tetap terjangkau masyarakat yang daya belinya merosot.

Dengan cara itu, ia yakin tetap mampu menghadirkan batik dengan material katun berkualitas disertai desain yang nyaman. Nyaman dipakai sebagai baju harian di rumah, namun tetap cantik saat dikenakan untuk bepergian.
 
Salah satu busana koleksi Sogan Batik Rejodani (ANTARA/HO/instagram Sogan Batik Rejodani)


Memasuki awal pandemi, ia sempat terbersit upaya untuk meninggalkan usaha busana batik yang kala itu dianggap tak prospektif lagi. Pasalnya, selama tiga bulan berturut-turut penjualan busananya anjlok sampai 50 persen, meski memasuki 2021, permintaan mulai menggeliat kembali.

Kala itu Sogan Batik Rejodani bahkan sempat mengalihkan konsentrasi sejenak pada pembuatan 1.000 masker untuk dibagi secara cuma-cuma bagi masyarakat. Aksi amal itu  berbuah keberuntungan karena ia kemudian memperoleh pesanan tidak kurang 20.000 masker.

Meski telah mendapat pesanan ribuan masker, hal itu tidak bertahan lama. Iffah dan karyawannya kemudian kembali berfokus merancang beragam aneka busana batik dengan mengikuti selera masyarakat yang lebih banyak tinggal di rumah seiring dengan maraknya penerapan "work from home" (WFH) di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta.

Pernak-pernik pelengkap bahan baku pun dikurangi dan menjadi lebih sederhana. Busana batik sogan yang memiliki ciri desain semi formal kemudian lebih diarahkan supaya nyaman dipakai di rumah sekaligus di luar rumah.

Sebagian besar penjualan daring

Sebagian besar pelaku usaha bidang fesyen, tidak terkecuali Sogan Batik Rejodani barangkali telah menyadari bahwa promosi secara langsung di luar jaringan (off line) tidak lagi memungkinkan ditempuh di masa pandemi.

Seiring penerapan jaga jarak fisik, pameran fesyen secara langsung pun tidak memungkinkan digelar. Solusinya, pelaku usaha harus membawa seluruh konsep promosi ke dunia maya. Media sosial menjadi pilihan yang dapat dimanfaatkan secara gratis maupun berbayar.

Iffah mengaku tidak kaget dengan perubahan konsep pemasaran itu. Pasalnya, jauh sebelum pandemi, 90 persen penjualan dan promosi busananya telah dilakukan secara daring, khususnya menggunakan media sosial Instagram.

Penggunaan media sosial, baginya, tidak jauh berbeda dengan membeli toko secara riil. Hanya saja untuk membangun toko daring, biayanya lebih banyak dialihkan untuk ongkos sumber daya manusia (SDM) sebagai operator yang memiliki keahlian di bidang teknologi informasi.

Lebih dari toko biasa, toko daring justru mampu menjangkau pelanggan secara lebih luas tak sebatas lokal atau dalam negeri saja. Selain itu, berbagai ragam desain yang ditawarkan juga dapat dilihat secara keseluruhan secara mendetail sehingga lebih mampu menyentuh minat calon pembeli.

Eksis di tengah pandemi

Upaya yang ditempuh Iffah untuk mempertahankan usaha busana batiknya didukung sepenuhnya oleh Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Titik Purwati Widowati.

Menurut Titik, sebagian besar perajin batik di Tanah Air tetap bertahan karena dunia batik berkaitan dengan passion atau kesukaan.
 
Penyandang tuna rungu mewarnai batik motif virus Corona pada lembar kain di Batik Toeli Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/2/2021). Batik motif corona tersebut dibuat sebagai bentuk kreatifitas perajin batik penyandang tuna rungu setempat yang terinspirasi dengan kondisi pandemi COVID-19. (ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.)


Balai Besar Kerajinan dan Batik yang berkantor di Yogyakarta selama ini terus mendorong perajin batik di seluruh penjuru Nusantara tetap eksis di tengah pandemi dengan mengoptimalkan berbagai teknologi yang telah disediakan tanpa bergantung bahan baku impor.

Agar busana batik tetap terserap pasar, Titik menyarankan para pengusaha atau perajin lebih mengedepankan desain dengan tema yang sederhana sehingga lebih mudah diterima serta bisa ditekan harga jualnya.

Ia meminta para perajin busana batik melakukan diversifikasi produk. Tidak melulu berwujud produk busana, tetapi bisa merambah pada masker, sajadah, atau taplak meja.

Bisnis fesyen batik cenderung tidak tergoyahkan oleh pandemi karena produk tekstil impor saat ini masih dihambat masuk sehingga masyarakat cenderung lebih suka menggunakan produk dalam negeri.

Capaian ekspor batik pada periode Januari-Juli 2020 yang merupakan fase awal pandemi mencapai 21,54 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau meningkat dibandingkan semester I 2019 senilai 17,99 juta dolar AS.

Terlepas dari soal bisnis, semua pihak tak terkecuali para perajin batik memiliki tanggung jawab yang sama untuk melestarikan batik Indonesia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.




 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar