Menag: toleransi harus dijadikan kebutuhan masyarakat

id ukdw

Universitas Kristen Duta Wacana (Foto students.ukdw.ac.id)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Toleransi jangan hanya dipahami tetapi juga harus dipraktikkan dan dijadikan sebagai kebutuhan masyarakat yang majemuk, kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
     "Memelihara toleransi sangat diperlukan di dalam negara beragam, di dalam masyarakat majemuk, seperti yang kita miliki sekarang," katanya pada seminar "Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk" di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Rabu.
     Menurut dia, Tuhan memang menciptakan manusia secara plural sehingga perlu memahami, mempraktikkan, dan menjadikan toleransi sebagai kebutuhan,tanpa mengusik akidah satu keyakinan, kepercayaan, dan agama tertentu.
     "Tidak hanya antaragama, di dalam satu agama pun muncul banyak perbedaan. Untuk itu, toleransi perlu dipraktikkan secara bijaksana karena kita memang hidup di dalam masyarakat yang beragam," kata Lukman.
     Rektor UKDW Henry Feriadi mengatakan universitas yang dipimpinnya memang bersemangat untuk terus menumbuhkan toleransi tanpa memandang agama, etnis, dan status.
     "Sejak awal berdirinya UKDW selalu mengedepankan pluralisme. Mengembangkan teologia yang kontekstual, bukan berbasis pada Eropa, Timur Tengah maupun yang lain," kata Henry.
     Koordinator seminar Wahyu Nugroho mengatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat religius tetapi sekaligus bangsa yang menderita karena kekerasan-kekerasan bernuansa agama.
     "Oleh karena itu, seminar bertujuan membangkitkan komitmen di antara kalangan beragama di Indonesia untuk setia pada panggilan kenabiannya menjadi penjaga sekaligus pemelihara toleransi dengan mengedepankan kedamaian yang menjadi sifat hakikinya," katanya.
     Menurut dia, Pusat Studi Agama-agama Fakultas Teologi UKDW sebagai penyelenggara seminar ingin mengajak para peserta agar menyadari ada kekuatan politis-sosiologis yang tidak pernah bosan berusaha menghancurkan spirit toleransi masyarakat dengan isu-isu rasial maupun politis.
     "Pengenalan terhadap kekuatan-kekuatan tersebut menjadi salah satu modal bagi kita untuk memutus mata rantai intoleransi," kata Wahyu.

(B015)
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar