Gelombang mencapai lima meter nelayan dilarang melaut

id Gelombang laut

Ilustrasi, Gelombang tinggi mencapai 5 meter. (ANTARA FOTO/Rendi Yudistira/ags/15)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta memprakirakan tinggi gelombang maksimum di perairan laut selatan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 5 meter pada Jumat (20/7) sehingga nelayan dilarang melaut.
       
"Saat ini hingga tiga hari ke depan gelombang laut masuk kategori tinggi berkisar 2,5-5 meter," kata Kepala kelompok data dan Informasi Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Djoko Budiono di Yogyakarta, Jumat.
         
Menurut Djoko, salah satu pemicu gelombang tinggi di perairan selatan Yogyakarta itu yakni adanya peningkatan angin di Samudera Hindia.
         
Peningkatan angin tersebut, lanjut dia, terjadi karena terdampak fenomena daerah tekanan udara rendah di kawasan Laut China Selatan dan siklon tropis "Ampil" di timur laut Filipina, serta munculnya daerah tekanan tinggi di Australia (1024 Hpa). 
     
"Akibat meningkatnya angin ini memicu tinggi gelombang di selatan Jawa atau Yogyakarta," kata dia.
       
Dia mengatakan secara umum di sepanjang pesisir selatan DIY memiliki potensi tinggi gelombang yang sama. Namun demikian, kecil atau besarnya dampak empasan gelombang tersebut berbeda-beda sesuai dengan faktor topografi pantai.
       
"Sebagai contoh pantai yang langsung menghadap ke laut dampak empasan gelombang tentu lebih terasa. Berbeda dengan pantai yang ada bukit di sekitarnya atau ada bangunan pemecah ombak yang dapat menghambat kecepatan gelombang sehingga dampaknya tidak terlalu besar," kata Djoko.
         
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Agus Sudaryatno menambahkan tinggi gelombang tersebut bisa terus meningkat. Bahkan pada 25 sampai 26 Juli tinggi gelombang diperkirakan bisa mencapai tinggi maksimum 5-6 meter. 
   
 "Oleh sebab itu khususnya pada 25-26 Juli kami mengimbau agar nelayan tidak melaut. Bukan hanya di pesisir selatan Yogyakarta tinggi gelombang itu juga terjadi mulai pesisir selatan Pulau Sematera sampai  selatan NTB," kata dia.
       
Meski demikian, kata Agus, perkiraan tersebut tidak menutup kemungkinan masih bisa berubah. Hingga saat ini, petugas di Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta terus melakukan pemantauan 24 jam.
     
Pada Kamis (19/7) gelombang tinggi yang terjadi di sepanjang pantai selatan wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebabkan puluhan gasebo hingga lapak di sejumlah objek wisata pantai mengalami kerusakan.
     
Di Pantai Somedang terjangan gelombang laut  mengakibatkan 15 gasebo rusak, di Pantai Ngandong menyebabkan dua gasebo roboh, tiga lapak pedagang rusak, dan empat warung dinding tembok jebol.
     
Kemudian, di Pantai Drini lima kapal milik nelayan rusak, satu gasebo hilang terbawa arus gelombang, satu lapak pedagang roboh, dan satu set alat tangkap hilang.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar