Damkar Yogyakarta optimistis hidran kampung diselesaikan

id hidran

ilustrasi. Hidran ((Hayru Abdi/ANTARA Kaltim)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Dinas Pemadam Kebakaran Kota Yogyakarta optimistis pembangunan hidran berbasis kampung di enam kampung dapat diselesaikan tahun ini meski sempat mengalami gagal lelang.
   
“Kami terpaksa melakukan lelang ulang. Tetapi sekarang sudah ada pemenangnya dan pekerjaan fisik sudah mulai dilakukan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebakaran Kota Yogyakarta Agus Winarto di Yogyakarta, Sabtu.
   
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Yogyakarta mengalokasikan anggaran sekitar Rp716 juta untuk pembangunan rintisan hidran berbasis kampung di enam kampung yaitu di Kampung Jlagran Kecamatan Gedongtengen, Kampung Karangwaru Kecamatan Tegarejo, Kampung Ledok Tukangan Kecamatan Danurejan, Kampung Gemblakan Bawah Kecamatan Danurejan, Kampung Basen Kecamatan Kotagede, dan Kampung Cokrodirjan Kecamatan Danurejan.
   
Pembangunan hidran berbasis kampung di keenam kampung tersebut dilakukan sesuai hasil usulan dari warga melalui musrenbang karena wilayah tersebut padat penduduk dan tidak memiliki akses jalan yang bisa dilalui mobil pemadam kebakaran berukuran besar.
   
Selain itu, keenam kampung tersebut sudah memiliki organisasi Kampung Tangguh Bencana (KTB) sehingga warga di kampung tersebut siap dilatuh untuk menanggulangi bencana kebakaran.
   
Optimisme Agus bahwa pekerjaan bisa diselesaikan tahun ini disebabkan pekerjaan pembangunan hidran berbasis kampung tersebut bukan merupakan pekerjaan yang rumit karena pada dasarnya hanya menanam pipa untuk jaringan hidran dengan menggunakan pipa galvanum.
     
Konstruksi hidran berbasis kampung yang akan dibangun di enam kampung pada tahun ini, lanjut dia, tidak jauh berbeda dibanding konstruksi hidran yang sebelumnya sudah dibangun di Kampung Pathuk, Kampung Kauman dan Prawirodirjan.
   
 Namun demikian, hdran yang akan dibangun di enam kampung tersebut masih bersifat rintisan sehingga membutuhkan beberapa tahap pembangunan lanjutan agar menjadi sempurna. 
   
“Pada tahap awal ini, kami berharap bisa menyelesaikan konstruksi sekitar 50 persen dan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya,” katanya.
   
Agus berharap, penambahan fasilitas berupa hidran berbasis kampung tersebut dapat disinergikan dengan program penanganan kawasan kumuh yaitu Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). “Hidran akan menjadi aset pemerintah agar pemeliharaan lebih mudah,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar