Komunitas Malioboro akan gelar "Merti Malioboro" eratkan persaudaraan

id Malioboro, merti Malioboro, wayang kulit

Ilustrasi, Sejumlah warga mengikuti acara "Dhahar Kembul" Tumpengan Pancasila di Jl Malioboro, Yogyakarta.(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta (ANTARA) - Berbagai komunitas yang tergabung dalam Forum Lintas Komunitas Malioboro untuk pertama kalinya akan menggelar kegiatan “Merti Malioboro”, Selasa (12/3), guna mempererat hubungan persaudaraan antar komunitas di kawasan tersebut.

“Jika biasanya kegiatan ‘merti’ identik dengan bersih-bersih, maka untuk kali ini juga akan diisi dengan berbagai kegiatan budaya. Mulai dari kenduri dan acara puncaknya adalah pentas wayang kulit,” kata Ketua Forum Lintas Komunitas Malioboro Edy Susanto di Yogyakarta, Senin.

Kenduri akan digelar di pintu barat Kepatihan dengan total 80 tumpeng yang berasal dari berbagai komunitas di Malioboro. Seusai acara, tumpeng tersebut akan dibagikan ke pengunjung atau wisatawan yang ada di kawasan Malioboro. Selama mengikuti kenduri, seluruh komunitas di Malioboro akan kompak menggunakan busana tradisional Yogyakarta.

Seusai kenduri akan dilanjutkan kegiatan pentas wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugroho, namun lakon yang akan dipentaskan masih dirahasiakan.

Dalam kegiatan tersebut, rencananya juga akan diisi dengan acara deklarasi berupa komitmen seluruh komunitas di kawasan utama wisata tersebut untuk selalu menjaga solidaritas, persaudaraan sekaligus menjaga suasana agar selalu kondusif apalagi dalam waktu dekat akan digelar Pemilu 2019.

“Sebagai kawasan utama wisata di Kota Yogyakarta, kami dari komunitas sangat berharap agar suasana di kawasan wisata ini tetap aman, kondusif dan nyaman. Tidak ada suasana atau tindakan yang memperkeruh suasana di Malioboro,” katanya.

Sementara itu, Ketua PKL Malioboro Rudiarto mengatakan, akan mengundang KPU Kota Yogyakarta dan Bawaslu Kota Yogyakarta sebagai bagian dari kegiatan tersebut. “Kami berharap, proses demokrasi bisa berjalan lancar sehingga suasana di Yogyakarta tetap kondusif, begitu pula dengan di Malioboro. Wisatawan tetap harus merasa nyaman,” katanya.

Ia pun berharap, kegiatan “Merti Malioboro” yang baru akan digelar untuk pertama kali tersebut memperoleh apresiasi yang baik dari seluruh pihak sehingga bisa digelar secara rutin setiap tahunnnya.

Sebelumnya, seluruh komunitas di kawasan Malioboro sudah memiliki kesepakatan bersama untuk libur selama 1x24 jam setiap Selasa Wage. Waktu libur tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membersihkan Malioboro secara gotong royong.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi bentuk komitmen seluruh komunitas di kawasan Malioboro dalam menjaga kawasan tersebut agar tetap kondusif.

“Tidak hanya dari segi ekonomi dan fisiknya saja, tetapi juga menjaga hubungan atau relasi sosial antar seluruh komunitas agar terus terjalin dengan harmonis. Semangat ‘paseduluran’ ini yang harus dijaga,” kata Haryadi. 

 

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar