DPUPKP Kulon Progo lakukan kajian sumber mata air baru untuk mengairi sawah

id Sumbar mata air,Kulon Progo

DPUPKP Kulon Progo lakukan kajian sumber mata air baru untuk mengairi sawah

Bendung Kemukus sebagai pintu air untuk distribusi air ke beberapa wilayah di Kulon Progo. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan melakukan kajian sumber mata air baru untuk mencukupi pengairan persawahan di wilayah ini.

Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo Hadi Priyanto di Kulon Progo, Senin, mengatakan pada tahun ini, pihaknya akan melakukan kajian sumber mata air baru yang bisa dapat menambah debit saluran irigasi Kalibawang.

"Kami akan mencoba membuat kajian sumber air baku, seperti dari Tinalah (Samigaluh) hingga pembuatan embung baru di kawasan Bukit Menoreh," kata Hadi Priyanto.

Ia mengatakan pencarian dan pembangunan sumber mata air baru untuk pengairan sawah memang sangat mendesak. Hal ini mengingat kebutuhan air untuk irigasi semakin tinggi, sehingga DPUPKP mencari sumber air baku.

"Rencana pembuatan kajian sumber mata baku sudah disetujui oleh DPRD Kulon Progo dengan biaya kajian Rp70 juta," katanya.

Hadi Priyanto mengatakan sumber mata air baru ini untuk mesiasati turunnya debit air Sungai Progo yang semakin parah setiap tahunnya. Selain untuk pengairan sawah, air Sungai Progo juga dimanfaatkan untuk sumber air baru PDAM Kulon Progo dan Spam Regional Karamantul.

Ia mengatakan dari debit Sungai Progo 13.000 meter kubik per detik, saluran irigasi Kalibawang hanya mendapat 6 meter kubik per detik.

Seperti diketahui sudah ada pembagian air Sungai Progo yang dialirkan ke intake Kalibawang dan intake Karangtalun. Dengan ketentuan dari debit air Sungai Progo, 30 persen dialirkan ke intake Kalibawang dan 70 persen ke intake Karangtalun.

Air yang dialirkan ke intake Kalibawang untuk pengairan pertanian seluas kurang lebih 7.000 hektare (ha) di wilayah Kabupaten Kulon Progo dan air yang dialirkan ke intake Karangtalun untuk pengairan seluas kurang lebih 30.000 hektare, meliputi di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Kabupaten Bantul.

"Debit Sungai Progo semakin hari semakin berkurang, sehingga air yang masuk ke Kulon Progo juga tidak sampai 6 meter kubik per detik," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha mengatakan musim tanam tahun ini mengalami kemunduran karena ketersediaan air yang kurang untuk olah tanah hingga tanam padi.

"Kami akan koordinasi dengan Bidang Pengairan DPUPKP Kulon Progo untuk mengevaluasi kembali pola tanam tanaman padi berdasarkan ketersediaan air," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar