FPDI Perjuangan memberikan tali asih korban tanah longsor Kokap

id Tanah longsor,PDI Perjuangan,DPRD Kulon Progo,tali asih

FPDI Perjuangan memberikan tali asih korban tanah longsor Kokap

FPDI Perjuangan memberikan tali asih korban tanah longsor di Kokap, Kulon Progo, Kamis (29/10/2020) ANTARA/Sutarmi

Kulon Progo (ANTARA) - Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo Provinsi DI Yogyakarta Akhir Nuryati bersama anggota Fraksi PDI Perjuangan memberikan tali asih kepada korban tanah longsor di Desa Kalirejo Kecamatan Kokap yang rumahnya nyaris tertimbun tanah longsor pada Selasa (27/10).

Akhid Nuryati di Kulon Progo, Kamis, mengatakan atas nama FPDI Perjuangan DPRD Kulon Progo mengucapkan bela sungkawa terhadap bencana tanah longsor yang menyebabkan rumah milik Kusnan korban tanah longsor di Kalirejo hampir rata dengan tanah.

"Kami berharap tali asih ini dapat sedikit membantu dalam menghadapi bencana ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab dan jajarannya yang sigap menangani bencana tanah longsor ini dari logistik hingga pembersihan material longsoran," kata Akhid Nuryati disela-sela meninjau lokasi tanah longsor.

Ia mengatakan berdasarkan laporan dari Kepala Desa/Lurah Kalirejo bahwa Kusnan memiliki usaha perbaikan elektronik. Saat kejadian tanah longsor, elektronik yang direparasi terkena longsoran, di sisi lain pemilik elektronik meminta dikembalikan.

"Kami minta Dinas Koperasi dan UKM membantu untuk modal usaha jasa perbaikan elektronik, supaya dapat bangkit kembali usahanya," katanya.

Akhid mengatakan di Kalirejo ada empat rumah yang terkena longsoran, sehingga harus direlokasi dan diberi bantuan. Pemkab Kulon Progo memberikan bantuan dengan program bedah rumah.

"Kami mendukung langkah pemkab dalam percepatan penanganan korban tanah longsor, supaya tidak ada longsor susulan," katanya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan Pancar Topo Driyo meminta BPBD Kulon Progo melakukan pemadatan terhadap lokasi yang akan digunakan untuk tempat relokasi. Selain itu, harus dibuat drainase dan dibangun talud yang kuat.

Menurutnya, di lokasi sekitar tanah longsor masih berpotensi adanya rekahan tanah. Potensi air masuk dalam rekahan dan bisa menyebabkan longsor susulan. Hal ini perlu diantisipasi oleh BPBD atau OPD teknis dalam membangun rumah dan talud.

"Kami minta BPBD teknis untuk segera melakukan pemadatan tanah dan pembuatan dranaine supaya air tidak masuk dalam rekahan tanah dan menyebabkan longsor susulan," katanya.

Ia juga meminta BPBD membuka kembali peta-peta potensi bencana dalam mengantisipasi dan mencegah terjadi bencana, baik bencana tanah longsor, banjir dan pohon tumbang.

"Saat ini, baru memasuki musim hujan. Untuk itu, kami minta BPBD membuka kembali peta bencana, kalau belum mempunyai, segera menyusun peta bencana. Hal ini sangat penting, karena baru memasuki hujan sudah banyak bencana tanah longsor dan banjir di Panjatan," katanya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Kokap dan Pengasih DPRD Kulon Progo adalah Ida Ristanti, Pancar Topo Driyo dan Septi Nur Anggraeni.

Sementara itu, Anggota PDI Perjuangan DPRD Kulon Progo Ida Ristanti dan Septi Nur Anggraeni meminta Pemkab Kulon Progo melakukan reboisasi atau penghijauan kembali di kawasan Bukit Menoreh dalam rangka mengantisipasi terjadinya tanah longsor, dan diimbangi dengan pembangunan terasiring.

Wilayah kawasan Bukit Menoreh merupakan daerah yang memiliki potensi tinggi terjadinya bencana tanah longsor dan kekeringan. Sehingga dibutuhkan tanaman yang bisa menyimpan air dalam tanah.

"Pohon yang ditanam harus berakar kuat dan memiliki daya tahan untuk menahan air, contoh beringin, dan gayam," katanya.

Seperti diketahui, Pada Selasa (27/10) pagi, rumah warga di Dusun Plampang II, Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, nyaris tertimbun tanah longsor yang meluluhlantakkan rumah mereka pada Selasa (27/10) pagi. Beruntung keluarga yang terdiri dari dua orang lansia, dua orang dewasa dan satu balita itu berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar suara gemuruh sesaat sebelum peristiwa itu terjadi.

Keluarga itu terdiri dari pasangan suami istri dan anaknya yaitu Kusnan (35), Tutik Nuryanti (29), Natasha Nur Soleha (4) serta kedua orang tua Kusnan, Paito Sumo Wiyono (60) dan Puniyah (60). Mereka tinggal secara terpisah di tiga rumah yang saling berdekatan di wilayah RT 62, RW 19, Plampang II.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar