Haedar: Idul Fitri diharapkan melahirkan transformasi rohaniah

id haedar

Haedar: Idul Fitri diharapkan melahirkan transformasi rohaniah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (HO-Muhammadiyah)

Yogyakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan Idul Fitri merupakan momentum refleksi diri yang diharapkan melahirkan transformasi rohaniah terdalam dan memancarkan fungsi bagi kehidupan umat.

"Idul Fitri merupakan simbol transformasi setelah dididik di 'sekolah' Ramadhan selama sebulan penuh," kata Haedar pada Pengajian Syawalan Keluarga Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta secara virtual pada Kamis.

Menurut dia, selama sebulan penuh umat Islam menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mendirikan malam dengan shalat tarawih dan witir, membasahi lisan dengan membaca Al Quran, dan menunjukkan kepedulian dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah.

"Setiap tahun berpuasa, apakah seluruh rangkaian ibadah itu telah melahirkan perubahan yang fundamental dan signifikan bagi kita?. Apakah akumulasi ritual rukun (ibadah puasa) itu telah membawa juga perubahan dalam deret ukur kualitas kerohanian kita untuk menjadi lebih baik dan lebih bertakwa?" katanya.

Ia mengatakan jika prosesi ibadah hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa memiliki dampak spiritual batiniah setelahnya sungguh disayangkan, karena ibadah hanya dilakukan sebagai rutinitas.

"Ibadah, sebagaimana puasa di bulan Ramadhan, hanya dilakukan sebagai rutinitas tahunan tanpa adanya kesan, peningkatan, pencerahan, dan perubahan dalam jiwa setiap Muslim," katanya.

Haedar menjelaskan bahwa kata "tattaqun" dalam QS. Al Baqarah ayat 183 cenderung dipahami sebagai hadiah yang akan didapatkan oleh orang yang telah berpuasa.

"Takwa dijelaskan sebagai pangkat, gelar, dan identitas yang melekat pada diri orang yang berpuasa. Padahal ungkapan 'tattaqun' adalah proses berkelanjutan dari perilaku takwa. Proses ini menjadikan kita untuk semakin bertakwa yang berkelanjutan," kata Haedar.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar