Guru Besar UGM : Radikalisme menandai minimnya pendidikan spiritual

id Radikalisme,Pendidikan spiritual,Yogyakarta,UGM

Guru Besar UGM : Radikalisme menandai minimnya pendidikan spiritual

Aparat kepolisian bersenjata lengkap berjaga-jaga usai kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3). (FOTO ANTARA)

Yogyakarta (ANTARA) - Guru Besar Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Subandi menuturkan munculnya fenomena radikalisme menandakan masih minimnya pendidikan spiritual di Tanah Air.

"Kita lebih memfokuskan pada (pendidikan) agama, tapi kurang memperhatikan faktor spiritualitas (di dalamnya)," kata Subandi melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Kamis.

Hal itu disampaikan Subandi merespons hasil survei yang diterbitkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah pada 2018 yang menunjukkan bahwa pada level sikap atau opini, siswa, dan mahasiswa Indonesia memiliki pandangan keagamaan yang cenderung radikal mencapai angka 58,5 persen.

Ia mengatakan agama dan spiritualitas sebetulnya adalah dua hal yang berbeda kendati memiliki keterkaitan yang sangat dekat. Dalam kehidupan rohani seseorang, agama adalah bagian luar yang terlihat (eksoteris, lahiriah), sedangkan spiritualitas adalah bagian dalam (esoteris, batiniah).

Agama, tutur dia, dapat berupa praktik peribadatan atau ritual, ajaran benar dan salah, dan lain sebagainya. Sedangkan spiritualitas adalah pengalaman subjektif individu terkait kesucian atau pencarian makna keberadaan manusia di dunia.

Bagi Subandi, spiritualitas tersebut lebih tepatnya adalah sebuah kesadaran.



Menurut dia, terdapat empat komponen dari spiritualitas yaitu kesadaran ketuhanan, kesadaran diri, kesadaran kemanusiaan, dan kesadaran alam.

Kesadaran ketuhanan, kata dia, adalah pengalaman individu yang terhubung dengan eksistensi Tuhan atau merasakan kebersamaan dengan Tuhan.

Menurutnya, kesadaran ketuhanan ini menjadi fondasi serta melingkupi semua bentuk kesadaran sehingga terhubung dan terintegrasi.

Berikutnya, kata dia, ialah kesadaran diri yang memiliki arti sebagai keterhubungan manusia dengan eksistensi dirinya sendiri, baik eksistensi terhadap yang ada di luar dirinya (kognitif), maupun kesadaran mengenai hakikat dirinya mulai dari siapa, dari mana, serta apa tujuan hidupnya.

Ketiga ialah kesadaran kemanusiaan yang mempertegas bahwa manusia itu saling terkait antara satu dengan yang lain yang terbagi dalam aneka ragam agama, budaya, suku, etnis, bahkan karakter pribadi yang berbeda.

"Hal ini kemudian mengacu kepada hakekat manusia sebagai satu keluarga yang harus saling mendukung, saling menolong, serta saling mengasihi," ujar dia.

Terakhir yakni kesadaran alam sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari kehidupan di alam, baik dengan alam yang tampak di sekitarnya, maupun alam semesta yang luas (kesadaran kosmos).

Ia berharap pendidikan spiritual dapat dilakukan sejalan dengan pendidikan agama.

Selama ini, menurut dia, pendidikan spiritual kerap terabaikan sehingga agama hanya menjadi bentuk dogma dan ritual-ritual dalam masyarakat.

Ia berkata agama tanpa spiritualitas bagaikan sebuah wadah tanpa isi, sebaliknya spiritualitas tanpa agama adalah isi yang tidak ditutupi oleh wadah.

"Karena spiritualitas itu kurang diperhatikan, maka agama cenderung bisa menjadi radikal, (sehingga) ini menjadikan potensi konflik SARA di Indonesia menjadi tinggi.(Pendidikan) spiritualitas bisa menjadi solusi yang bisa (dilakukan)," tutur Subandi.



 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021