Menengok Museum Kehutanan sarat koleksi hutan

id museum kehutanan,hutan indonesia,Manggala Wanabhakti,ekonomi hijau,Djamaludin Suryohadikusumo

Menengok Museum Kehutanan sarat koleksi hutan

Pohon jati setinggi 15 meter di tengah Museum Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, Jumat (10/11/2023). Museum ini diresmikan Presiden Soeharto pada 24 Agustus 1983, menyimpan koleksi-koleksi bertema hutan dan kehutanan Indonesia. ANTARA/Mecca Yumna

Jakarta (ANTARA) - Sebuah museum berdiri di kompleks perkantoran Manggala Wanabhakti, teduh di bawah kanopi lebat yang disusun dari banyak pohon. Berdiri di sini, rasanya polusi Jakarta jauh dari pikiran.

Memasuki gedung museum, pengunjung akan disuguhi hamparan koleksi kehutanan yang dihimpun selama berpuluh-puluh tahun. Desain interior museum ini mengingatkan pada era 80-an. Sekilas, desain ubinnya yang berbentuk heksagonal dan berwarna oranye cerah, mengingatkan pada rumah lebah. Pilihan desain tersebut senada dengan tema kehutanan yang diusung museum ini.

Satu objek menjadi pusat perhatian di museum berlantai dua ini, yaitu sebuah pohon jati yang menjulang setinggi 15 meter, menyentuh langit-langit museum yang didesain sedemikian rupa, agar cahaya Matahari menyentuh lantai museum.

Di sekeliling pohon jati itu ada berbagai hewan hasil taksidermi, seperti harimau sumatera, penyu sisik, otter, trenggiling, buaya muara, soa-soa, beruang madu, macan dahan, lutung jawa, cendrawasih, dan kijang. Ada satu harimau sumatera yang diletakkan paling dekat dengan pohon jati itu. Oleh para staf museum, dia dipanggil 'Panjul'.

Masih di bagian tengah museum tersebut, terletak sedikit lebih jauh dari pohon jati ikonik itu, terdapat sebuah potongan kayu besar yang berusia 336 tahun. Di samping kiri dan kanannya, ada dua daftar yang cukup unik, yaitu peristiwa-peristiwa nasional serta kehutanan yang terjadi semasa pohon itu hidup, mulai dari kecambah hingga akhirnya ditebang.

Pohon itu mulai berkecambah pada tahun 1644, jauh sebelum museum itu dilahirkan, dan ditebang pada 1982, sebelum akhirnya dipajang di museum kehutanan itu. Artinya, selama hidupnya, pohon satu ini ada dalam masa Perang Makassar, Perang Diponegoro, kelahiran R.A. Kartini, pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, hingga pemilihan umum ketiga.

Tepat di sisi kanan pintu masuk, terdapat deretan potongan kayu dari pohon. Sejumlah potongan itu, antara lain, kapur, meranti, mahoni, jati, gaharu, dan damar.

Lanjut ke bagian kanan museum dari pintu masuk lagi, terdapat sebuah pohon di dalam bilik kaca dengan enam segi. Di salah satu seginya, terdapat satu plakat bertuliskan ‘manfaat sebuah pohon’. Di dalamnya ada berbagai produk hasil bagian pohon tertentu. Ada berbagai jenis minyak yang menjadi bahan baku kosmetik, madu, kertas, korek api, dan getah.

Di dekat vitrin tersebut terdapat sebuah gunungan wayang berukuran besar dan berwarna warni yang jadi salah satu contoh produk dari hutan yang bernilai seni. Ada juga vitrin panjang yang menyimpan berbagai sampel hasil hutan non-kayu, seperti resin, kerajinan dari rotan dan bambu, kokon, ulat sutera, dan benang sutera. Di salah satu ujung vitrin, ada juga miniatur perahu yang cukup detail.


Segudang karya dan sejarah 

Sebuah sudut khusus mempertontonkan karya-karya seni lainnya yang sarat akan cerita. Relief Arjuna Wiwaha, Patung Hanoman, Garuda Wisnu, serta Patung Kodok menjadi beberapa karya seni dari kayu yang dapat pengunjung amati.

Uniknya, di samping ukiran-ukiran klasik itu, ada sebuah manekin yang dipakaikan mahkota dan busana berwarna biru serta bawahan berupa batik. Manekin itu dibuat semakin heboh dengan banyaknya aksen dan aksesoris yang diciptakan dari berbagai bahan bekas serta bahan alami. Sebuah plakat di sampingnya menjelaskan bahwa busana itu berasal dari sebuah parade kostum pada tahun 2014, yaitu Wanabhakti Fashion Street.

Dalam museum ini, tak hanya hasil hutan bergaya Jawa saja yang ditampilkan. Di satu sudut lantai 1 museum, pengunjung diperlihatkan berbagai peralatan rumah tangga berbasis kayu dari sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain, Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Selain peralatan rumah tangga tradisional, ada juga hasil-hasil lain yang diperlihatkan, antara lain, jaket dari kulit kayu, yaitu baju lantung. Ada juga peralatan berburu, seperti bumbung racun, mandau, dan tameng dengan motif ukiran yang apik, dayung dengan ukiran, serta lukisan tradisional di potongan kulit kayu terap.

Karya berbasis alam yang lainnya adalah koleksi bertema sutera alam, yang menunjukkan benda-benda terkait mulai dari alat pembuatannya, kokon, hingga sejumlah kain sutera dengan berbagai warna dan corak.

Museum ini juga menyimpan miniatur-miniatur sejumlah jenis hutan, seperti hutan jati, hutan lindung, dan hutan bakau, serta tulang-belulang dari binatang, semisal buaya dan badak. Di lantai museum, ada juga hasil hutan yang ukurannya lebih besar dan bersifat komersil, seperti kayu lapis dan jati.


Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah sejarah dari kehutanan Indonesia itu sendiri, dimulai dari era VOC (Veredigne Oost Indiche Compagnie) yang meminta izin dari Raja Mataram untuk memakai hutan Indonesia. Ada berbagai buku berbahasa Belanda tentang pengelolaan hutan lestari, peta-peta hutan di Indonesia, peralatan ukur Indonesia, juga seragam yang digunakan penjaga hutan di masa lalu.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menilik "pusaka hijau" di Museum Kehutanan
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2024