Sleman (Antara Jogja) - Ribuan tanaman penghijauan di lereng Merapi, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa tidak dapat tumbuh optimal dan terancam mati akibat diserang penyakit "tumor" atau "arafuru".

"Tanaman yang diserang tumor ini adalah jenis sengon, batang tanaman yang diserang penyakit ini awalnya membesar dan setelah itu kulitnya pecah lalu membusuk dan mati," kata Tim Penghijauan Lereng Merapi, Bambang Sugeng, Jumat.

Menurut dia, pohon sengon yang ditanam antara dua hingga satu tahun lalu tersebut saat ini sudah tumbuh dengan ketinggian sekitar dua meter.

"Namun karena terserang penyakit `tumor` kemudian pohon-pohon tersebut tumbuh tidak optimal dan banyak yang mati," katanya.

Ia mengatakan, jumlah tanaman penghijauan yang diserang "tumor" tersebut mencapai ribuan diantaranya di Dusun Petung, Jambu, Kopeng, Kaliadem dan Manggong di Desa Kepuharjo, Cangkringan.

"Di Desa Umbulharjo, Cangkringan juga tidak sedikit yang diserang `tumor`, karena penyakit ini menyebar melalui angin sehingga jangkauannya sangat luas," katanya.

Bambang yang biasa disapa Kotir ini mengatakan, pencegahan penyakit ini sebenarnya bisa dilakukan dengan mematahkan batang yang terkena "tumor" sebelum benjolan ini mengering dan berubah menjadi serbuk dan kemudian terbawa angin.

"Selain itu juga bisa dilakukan dengan cara menyiram air yang dicampur kapur dan garam. Namun karena jumlahnya mencapai ribuan maka sulit untuk membasmi serangan `tumor` tersebut karena harus satu per satu," katanya.

Ia mengatakan, tanaman penghijauan yang diserang `tumor` tersebut merupakan tanaman yang ditanam warga di lahan mereka yang terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 dan sebagian besar lahan sudah tidak boleh untuk hunian tetap.

"Sebenarnya tanaman penghijauan ini juga merupakan akses ekonomi warga korban Merapi, namun karena serangan `tumor` cukup ganas maka hanya bisa dijadikan kayu bakar karena pohon sudah mati sebelum batangnya besar dan bisa diolah menjadi kayu pertukangan," katanya.

(V001)

Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar