Perajin wayang kulit kesulitan bahan baku

id kerajinan wayang kulit

Produk kerajinan kulit tatah sungging Pucung, Desa Wukirsari, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Sidik)

Jogja (ANTARA Jogja) - Perajin wayang kulit di Desa Pucung, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kesulitan untuk mendapatkan pasokan bahan baku berupa kulit sapi sejak Februari lalu sampai sekarang.

"Sampai saat ini bahan baku berupa kulit sapi sulit diperoleh, meskipun kemarin baru saja Hari Raya Kurban," kata perajin wayang kulit sekaligus pemilik toko kerajinan wayang kulit `Jumadi Collection`, Jumadi, di Yogyakarta, Minggu.

Ia mengatakan bahan baku itu sebagian besar biasanya dipasok dari Magetan, Jawa Timur. "Biasanya bahan baku berupa kulit sapi yang sudah dimasak kami dapatkan dari daerah Magetan," katanya.

Jumadi berharap pada November ini pasokan bahan baku tersebut kembali lancar.

Saat ini dirinya hanya mampu memproduksi antara 100 hingga 200 wayang kulit per bulan, dengan mengandalkan bahan baku dari daerah lain dalam jumlah sedikit.

Apabila pasokan bahan baku tidak terhambat, pihaknya bisa memproduksi hingga 400 wayang kulit per bulan. "Biasanya wayang kulit kami kirim ke Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan," katanya.

Menurut dia, apabila pasokan bahan baku lancar, bisa diproduksi 400 wayang kulit per bulan, dan itu pun kalau cuaca bagus untuk mengeringkannya.

Ia mengatakan musim hujan juga berpengaruh terhadap produksi setiap bulannya, karena perajin wayang kulit di Bantul sebagian besar masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan produk mereka.

Perajin wayang kulit di Bantul lainnya, Keni Suharjo juga mengeluhkan langkanya bahan baku berupa kulit sapi.

Akibat kelangkaan bahan baku, dirinya terpaksa menghentikan sebagian karyawannya dari lima orang, kini tinggal dua orang.

Ia mengatakan omzet penjualan produknya per bulan rata-rata Rp12,5 juta. "Omzet kami menurun, karena tahun lalu bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta per bulan," katanya.

Meski demikian, dirinya tidak menaikkan harga jual wayang kulit yang dihasilkannya. Harganya mulai dari Rp2.500 per wayang ukuran kecil, yang biasanya sebagai aksesoris pembatas halaman buku, hingga seharga Rp250.000 untuk wayang kulit "bambangan" atau wayang dengan ukuran 55 cm.

Menurut dia, paling mahal adalah "gunungan", yang dijual dengan harga Rp7.500.000 per buah.
(KR-LQH)

Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar