1.990 KK salurkan jamban langsung ke sungai

id salurkan jamban ke sungai,pencemaran sungai

Ilustrasi, sungai code Yogyakarta (Foto jogja.antaranews.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Sebanyak 1.990 kepala keluarga di Kota Yogyakarta diketahui masih menyalurkan jamban di rumah mereka secara langsung ke sungai tanpa melalui "septic tank".

"Dari hasil pendataan di wilayah, sebagian besar adalah warga yang tinggal di bantaran sungai. Paling banyak ada di Kecamatan Gedontengen dengan 703 kepala keluarga (KK)," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, jamban yang langsung disalurkan ke sungai masuk dalam kategori jamban tidak layak sehingga perlu dilakukan upaya agar masyarakat bisa memiliki jamban yang layak guna meningkatkan sanitasi lingkungan termasuk derajat kesehatan warga.

"Kami akan lakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat agar bisa memiliki jamban yang layak secara mandiri. Meskipun demikian, kami juga menyiapkan bantuan untuk jambanisasi," katanya.

Pada tahun ini, Pemerintah Kota Yogyakarta akan menyalurkan bantuan sebanyak 85 jamban ke warga yang terdiri dari 45 jamban bantuan dari Pemerintah DIY dan 40 jamban dari Pemerintah Kota Yogyakarta.

"Biasanya, masyarakat enggan membuat `septic tank` karena merasa bahwa limbah yang dihasilkan bisa langsung tersapu arus sungai," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengawasan Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Yunita Rahmi Hapsari mengatakan, upaya pemenuhan 100 persen sanitasi di Kota Yogyakarta terus diintensifkan, salah satunya dengen program jambanisasi yang akan didukung dengan pembangunan "septic tank" komunal.

Pada tahun anggaran 2018, DPUPKP Kota Yogyakarta merencanakan pembangunan tujuh "septic tank" komunal di antaranya berada di Kecamatan Umbulharjo dan Gondomanan.

"Selain itu, pembangunan sambungan rumah dan saluran pembawa juga akan terus dilakukan," katanya.

Pada tahun ini, akan ada pembangunan 30 sambungan rumah yang tersebar di beberapa lokasi, serta pembangunan 146 sambungan rumah dan saluran pembawa di Warungboto.

Salah satu kendala dalam pembangunan sambungan rumah adalah faktor keberatan warga yang enggan menyambungkan saluran limbah mereka ke saluran terpusat dengan alasan sudah memiliki "septic tank".

"Tetapi, jika sudah ada saluran pembawa di depan rumah, maka warga wajib membuat sambungan rumah. Memang ada retribusi yang dipungut tetapi nilainya sangat ringan," katanya. 
(U.E013) 08-02-2018 16:26:28
Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar