DESA INOVATIF- Bangunjiwo bangun keunggulan sambil merawat tradisi

id Bangunjiwo,Desa inovatif

Sejumlah anak muda melakukan kegiatan pelatihan keterampilan membuat gerabah di Kasongan, Desa Bangunjiwo, Kabupaten Bantul. (ANTARA/Luqman Hakim) (.)

Bantul, Yogyakarta (ANTARA) - Desa Bangunjiwo di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki segudang potensi, mulai dari seni, tradisi, kerajinan, industri kreatif, hingga pertanian.

Warga dan aparat desa yang terbentuk tahun 1946 itu bahu-membahu mengolah dan mengembangkan potensi desa untuk kemaslahatan bersama.

Pemerintah desa mengalokasikan anggaran untuk mendukung penyelenggaraan pelatihan dan festival budaya tahunan berdasarkan usul dari warga.

Dana desa Rp1,5 miliar yang tahun ini diperoleh Desa Bangunjiwo dari pemerintah pusat sebagian dimanfaatkan untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat, selain untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Meski sebagian besar warganya punya keterampilan membuat produk kerajinan, Pemerintah Desa Bangunjiwo tetap rutin menggelar pelatihan.

Pemerintah desa antara lain mengadakan pelatihan membatik, mengelola peternakan, dan manajemen pemasaran dengan mendatangkan para ahli.

"Seluruh potensi yang dimiliki masyarakat memang terus kami fasilitasi, kami semangati biar bisa berkembang dan tidak punah. Jangan sampai masyarakat sudah semangat tapi desa tidak mau merespons," kata Sukarman, Carik atau Sekretaris Desa Bangunjiwo.

Membangun Keunggulan

Pemerintah Desa Bangunjiwo menggunakan dana desa untuk membangun dan memperbaiki jalan sehingga sepeda motor, mobil, dan bus wisatawan bisa melintasi pelosok desa tanpa hambatan berarti.

Infrastruktur yang sudah memadai mendukung berbagai kegiatan ekonomi warga di desa seluas 1.500 hektare yang bagian timurnya mencakup hamparan persawahan dan perkebunan tebu itu.

Desa Bangunjiwo punya beberapa pusat kerajinan, termasuk di antaranya Kampung Kasongan yang dikenal sebagai pusat keramik dan gerabah.

Sementara Dusun Jipangan yang merupakan kawasan sentra kerajinan berbahan bambu seperti kipas dan hiasan rumah. Produksi kipas Jipangan masuk ke pasar kerajinan di Bantul dan Kota Yogyakarta serta daerah lain seperti Bali, Jakarta, dan Bandung.

Selain itu ada pedukuhan Gendeng yang merupakan pusat kerajinan tatah sungging kulit (wayang) berkualitas. Saat ini ada setidaknya 25 pengrajin wayang kulit namanya dikenal oleh para dalang dari berbagai daerah.

Pusat kerajinan lainnya ada di Lemahdadi, sentra kerajinan patung batu (pahat dan cetak) yang produknya sudah masuk pasar ekspor.

Berinovasi untuk Maju 

Guna mengoptimalkan pengembangan industri kerajinannya, desa yang meliputi 19 pedukuhan itu pada tahun 2011 membentuk paket wisata edukasi Kaji Gelem, akronim dari Kasongan, Jipangan, Gendeng, dan Lemahdadi.

Upaya pengembangan wisata kawasan Kaji Gelem, yang mendapat sokongan pembiayaan dari dana desa, diproyeksikan bisa meningkatkan pendapatan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang saat ini masih bersumber dari penyewaan gedung dan tanah kas.

Dengan mempromosikan paket wisata edukasi Kaji Gelem, kunjungan wisatawan tidak lagi hanya terfokus di Kasongan sebagai daerah yang lebih dahulu populer, namun bisa merambah ke sentra kerajinan lain seperti Jipangan, Gendeng, dan Lemahdadi.

Berkat dukungan dana desa pula, berbagai infrastruktur seperti jembatan serta akses jalan menuju sentra kerajinan dapat diperbaiki sehingga memudahkan para wisatawan mengunjungi kios atau rumah-rumah perajin yang tersebar di kawasan Kaji Gelem.

Guna mendukung upaya pelestarian budaya, menurut Sukarman, Desa Bangunjiwo secara khusus mengalokasikan anggaran dari dana desa untuk menggencarkan pelatihan dan penyelenggaraan festival budaya tahunan. Besaran anggaran pemberdayaan masyarakat yang dianggarkan setiap tahun disesuaikan dengan usul atau pengajuan dari masyarakat.

"Tanpa ada dana desa tentu berat untuk menggelar banyak pelatihan yang tujuannya untuk melestarikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki warga Desa Bangunjiwo," kata Sukarman.

Kerja warga Bangunjiwo dalam membangun desa, selain menggerakkan roda perekonomian juga mendatangkan penghargaan. Tahun 2018 misalnya, Kementerian Desa, Transmigrasi, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menobatkan Bangunjiwo sebagai salah satu desa unggulan.

Peningkatan pembangunan berkat dukungan dana desa itu diakui oleh warga Desa Bangunjiwo, Supriyadi. Setelah pemerintah mengucurkan dana desa, menurut dia, perbaikan jalan bisa dilakukan di seluruh pedukuhan Desa Bangunjiwo.

"Kalau dulu perbaikan jalan mengandalkan dana dari swadaya masyarakat di masing-masing padukuhan. Tetapi dengan adanya dana desa, perbaikan akses jalan dengan standar yang sama bisa dirasakan secara merata," kata Supriyadi, anggota Forum Komunikasi RT Desa Bangunjiwo.

Supriyadi berharap pemerintah pusat bisa terus mengucurkan dana desa untuk mendukung kemajuan pembangunan Desa Bangunjiwo.
 

Aset Berharga

Industri kerajinan merupakan salah satu aset berharga Desa Bangunjiwo, tempat tinggal bagi sekitar 30.000 keluarga.

Salah satu pusat industri yang selama ini menjadi andalan Bangunjiwo adalah Sentra Gerabah Kasongan. Kampung di Pedukuhan Kajen itu menghasilkan gerabah seperti guci, kendi, vas, hingga hiasan dinding dengan beragam jenis, bentuk dan ukuran.

Bermula dari tempat kerajinan sederhana yang hanya menghasilkan tungku tanah liat, Kasongan kemudian bertransformasi menjadi pusat kerajinan gerabah dan keramik dengan nilai tinggi.

Transformasi itu tidak lepas dari peran seniman Sapto Hudoyo, yang pada tahun 1970 memperkenalkan sentuhan seni dalam pembuatan gerabah tanah liat. Dengan sentuhan seni, ragam produk hadir, juga inovasi-inovasi dalam produksi dan desain.

Industri kerajinan gerabah Kasongan pun tumbuh dan menyerap ribuan tenaga kerja. Kini sisi kanan dan kiri jalan Kasongan penuh dengan ruang-ruang pamer produk kerajinan gerabah.

Di samping itu, sekitar 200 dari 350 pengrajin di Kasongan juga sudah merambah pasar ekspor.

Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Gerabah Kasongan mencatat rata-rata ada 20 kontainer produk kerajinan gerabah yang setiap bulan diekspor ke mancanegara, termasuk ke Uni Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Capaian itu tidak membuat Kasongan berhenti melangkah. Pusat kerajinan itu berusaha terus mengembangkan diri, antara lain dengan membangun pusat-pusat pelatihan pembuatan gerabah, yang selain menarik anak-anak muda untuk terlibat juga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Dicky Bisma Saputra, seorang pendiri lembaga pelatihan gerabah di Kasongan, menuturkan bahwa pengunjung dari luar daerah banyak yang datang untuk belajar membuat gerabah. Tempat pelatihan pembuatan gerabah Dicky saja sudah melayani seribuan orang.

Di tempat-tempat pelatihan pembuatan gerabah, anak-anak muda Kasongan yang mewarisi keahlian membuat gerabah dari leluhur mereka mengajari para pengunjung cara membuat gerabah sehingga mereka tidak hanya bisa membeli produk kerajinan, namun juga ikut merasakan proses pembuatannya.

Dicky mengakui peran aktif pemerintah desa dengan dukungan dana desa dalam mengembangkan dan menyempurnakan akses jalan dan promosi kawasan wisata “Kaji Gelem” memberikan dampak peningkatan kunjungan wisatawan ke lembaga pelatihannya.

 

Merawat Tradisi

Usaha-usaha mengembangkan potensi ekonomi masyarakat melalui industri kreatif tidak lantas membuat Bangunjiwo melupakan tradisi.

Desa tempat tinggal seniman lukis kaca Subandi Giyanto dan pelukis "satu miliar" Djoko Pekik itu berpegang pada visi "maju di dalam nilai-nilai tradisi yang kuat" dan berusaha merawat atau nguri-uri tradisi turun temurun mereka.

Hal itu antara lain terlihat dari konsistensi mereka setiap tahun menjalankan tradisi wiwitan, yang merupakan wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen.

Dalam rangkaian upacara wiwitan, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, warga desa biasanya datang dengan membawa aneka makanan hasil pertanian seperti jagung dan nasi serta ayam ingkung ke tepi sawah. Setelah doa-doa dilantunkan, nasi beserta lauk-pauk tersebut dibagikan kepada warga dalam wadah-wadah yang terbuat dari daun kelapa.

Di samping itu warga Desa Bangunjiwo tetap menghidupkan tradisi jagong atau kenduri saat ada orang yang melahirkan, serta tahlilan atau doa bersama bagi warga yang meninggal dunia.

Pelestarian tradisi lokal menjadi sangat penting bagi warga Bangunjiwo, yang tidak ingin modernisasi dan kemajuan teknologi menggerus nilai-nilai budaya dan tradisi mereka.

Baca juga: DESA INOVATIF - Sektor wirausaha mendongkrak kemandirian warga Desa Imogiri

Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar