Indonesia harus mengoptimalkan komoditas ekspor pilihan ke AS

id perang dagang,ekspor ke AS,ekspor tekstil AS,AS China,perdagangan ke AS

Ilustrasi perang dagang AS - China. (/)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine menilai pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat harus terus dioptimalkan dalam menyiasati perang dagang antara AS dan China.

Pingkan mengatakan perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dengan tetap memperhitungkan selisih perdagangan bilateral yang saat ini sudah mencapai 12,6 miliar dolar AS, agar tidak semakin melebar.

"Kita harus fokus mempertahankan penetrasi produk kita ke pasar Amerika Serikat. Setidaknya pada semester pertama tahun 2018, enam dari sepuluh komoditi utama ekspor Indonesia menempatkan mereka sebagai negara tujuan pada posisi teratas," kata Pingkan di Jakarta, Senin.

Ada pun komoditas ekspor tersebut yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT), karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao dan kopi.

Menurut dia, Indonesia sebaiknya mengoptimalkan ekspor pada komoditas TPT, karet dan produk karet untuk memasuki pasar Amerika Serikat selama perang dagang berlangsung. Komoditas tersebut menempati pos ketiga terbesar bagi komoditas ekspor China ke AS, setelah mesin dan perangkat transportasi serta komoditi ragam produk.

Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas dengan proses pengolahan agar menambahkan nilai pada komoditas yang diekspor. Misalnya saja untuk kakao yang juga menempati posisi pertama dalam komoditas utama ekspor Indonesia.

Keuntungan yang didapatkan dari ekspor kakao akan lebih tinggi jika Indonesia dan bubuk kakao. Para petani lokal sebaiknya juga mulai melakukan fermentasi kakao agar memiliki nilai lebih. Proses fermentasi kakao juga dapat memberikan kesempatan untuk memperluas pasar ekspor.

Pingkan menambahkan pemerintah perlu mengoptimalkan strategi perdagangan yang sudah ada. Berdasarkan data WTO di bulan Oktober 2018, jumlah kerja sama perdagangan Indonesia mencapai 288 dengan ragam bentuk seperti bilateral maupun multilateral.

Tidak jarang sebenarnya kerja sama ekonomi yang termuat dalam ini tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Dengan adanya road map yang jelas, diharapkan pemerintah bisa mengetahui dengan jelas produk/komoditas ekspor mana yang dapat diintensifkan ke negara mitra yang memiliki pasar potensial.

"Dengan adanya road map tersebut, produsen dalam negeri juga bisa memetakan produk/komoditas apa saja yang dapat diekspor dalam jumlah besar dan ke negara mana. Momentum perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat," katanya.

Baca juga: Presiden Rusia memberi es krim Presiden China sebagai kado ulang tahun
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar