Akademisi: Linearitas keilmuan akibatkan pola pikir dikotomik

id uin sunan kalijaga

Akademisi: Linearitas keilmuan akibatkan pola pikir dikotomik

Webinar "Masa Depan Keilmuan Non-Linier di Indonesia" yang diselenggarakan Senat UIN Sunan Kalijaga (HO-Humas UIN Suka)

Yogyakarta (ANTARA) - Linearitas dan monodisiplin keilmuan yang dikembangkan selama ini di Indonesia mengakibatkan pola pikir dikotomik, kata Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Siswanto Masruri.

"Perkembangan dan perubahan zaman menimbulkan banyak masalah baru bagi manusia sehingga memerlukan perubahan 'habit of mind' dan inovasi," katanya saat membuka pada webinar "Masa Depan Keilmuan Non-Linier di Indonesia", Selasa.

Misalnya, kasus pandemi COVID-19 menuntut pemecahan penyelesaian dengan multidisiplin ilmu. Permasalahan peradaban kekinian yang begitu kompleks (kesenjangan, kemiskinan, ketidakadilan di semua bidang, kekerasan, pelecehan, radikalisme/terorisme)  juga tidak akan bisa terselesaikan dengan baik, jika pendidikan perguruan tinggi masih berkutat pada linearitas keilmuan/tuntutan belajar keilmuan yang linier bagi setiap orang. 

"Indonesia perlu mengambil langkah cepat untuk melahirkan kebijakan di bidang pengembangan keilmuan non-linier, agar semua bidang keilmuan (Agama, Sains dan Teknologi, Sosial, Humaniora) bisa saling bergandengan dengan luwes untuk menyelesaikan permasalahan kekinian dengan baik," katanya.

Ia mengatakan, melalui forum ini Senat UIN Sunan Kalijaga mencoba menyumbangkan pandangan dan pemikirannya. Linearitas keilmuan tentu ada sisi-sisi positifnya, tetapi non-linearitas keilmuan dipastikan lebih kaya perspektif.

"Seperti pada masa pandemi COVID-19, hampir semua orang dari berbagai bidang ilmu ingin mengetahui wabah ini dalam dunia kesehatan. Apalagi pada era digital, apa kemajuan yang terjadi di dunia teknologi," kata Siswanto.

Menurut dia, saat ini para ilmuwan tidak hanya menemukan teori, namun juga memberikan contoh konkret penerapan teorinya dengan adanya internet dan teknologi informasi, masyarakat lebih mudah percaya dengan berita dan video yang menyajikan kekonkretan suatu ilmu, meskipun beritanya belum teruji secara keilmuan.

Selain memperkaya lokalitas khasanah keilmuan bangsa Indonesia, keilmuan non-linier sepertinya akan lebih mampu membentengi masyarakat awam Indonesia dari berita hoaks yang masif peredarannya.

"Betapa sering kita mendapatkan berita yang tidak teruji secara ilmiah, di sinilah keilmuan non-linier dapat memberikan sumbangsih pada dunia akademis dan masyarakat secara bersamaan," kata Siswanto.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof Amin Abdullah mengatakan linearitas program studi menjadi mentah atau kedaluwarsa, karena tidak cukup untuk memecahkan permasalahan kehidupan yang semakin kompleks saat ini.

"Spesialisasi keilmuan yang berlebihan adalah jalan yang pasti ke arah kematian dan kepunahan. Oleh karena itu, perlu pengaplikasian non-linearitas ilmu di perguruan tinggi," katanya.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof Iswandi Syahputra mengatakan perguruan tinggi perlu memahami tentang keilmuan non-linearitas perspektif konteks, bahwa akselerasi dinamis berbagai sektor realitas, berimplikasi pada perubahan berbagai relasi, bahkan mengarah pada disrupsi. 

"Akselerasi dinamis tersebut membawa serta keilmuan pada model pengembangan yang lebih integratif-interkonektif. Perspektif ini adalah kepastian masa depan, bukan tentang saat ini, apalagi fenomena masa lalu," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021