Pemerti Code: pendampingan prokasih perlu berkesinambungan

id kali code

Kali Code Kota Yogyakarta (Foto Antara)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Pendampingan program kali bersih di Kali Code Yogyakarta perlu dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus untuk mencapai hasil optimal, kata Sekretaris Pemerti Code Harris Syarif Usman.

     "Untuk menjadikan Kali Code sebagai sungai yang benar-benar bersih, hijau, dan sehat masih menghadapi kendala. Salah satu kendalanya adalah program pendampingan masih 'by project'," katanya di Yogyakarta, Selasa.

     Menurut dia, "by project" artinya program pendampingan akan berjalan ketika ada proyek, tetapi ketika proyek selesai, pendampingan juga mengendur. Padahal, inti dari program kali bersih satau prokasih adalah pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

     Oleh karena itu, Pemerti Code meminta pemerintah daerah agar tidak berhenti pada program "top down" untuk menjamin keberlanjutan dan efektivitas program. Saat ini secara bertahap masyarakat sudah mulai terbangun kesadarannya mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian sungai.

     "Hal itu harus diikuti dengan program lain agar masyarakat di sepanjang aliran sungai dapat mengembangkan aktivitas yang memberikan nilai ekonomi, tetapi pada saat yang sama tetap mendukung program utama menjadikan sungai yang bersih, hijau, dan sehat," kata Harris.

     Anggota Groundwater Working Group (GWWG) Fakultas Teknik (FT) UGM Agus Maryono mengatakan FT UGM akan mengembangkan Gerakan Restorasi Sungai Indonesia (GRSI) yang dimulai dari Kali Code Yogyakarta.

     "Maksud gerakan itu adalah menggabungkan fungsi ekologi, hidrologi, sosial, dan budaya dari keberadaan sungai sehingga menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar," katanya.

     Gerakan itu, menurut dia, juga tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limpahan air dari drainase perkotaan agar tidak terjadi banjir.

     Bahkan, pihaknya saat ini mengembangkan sistem  drainase ramah lingkungan dengan prinsip tampung, resapkan, alirkan, dan pelihara. Sistem itu diterapkan di Perumahan Jambusari dengan cara "memanen air hujan".

     Warga menggunakan sistem arisan dalam membuat instalasi pemanen air hujan (PAH). Saat ini sudah ada 10 PAH dan berharap bertambah hingga 50 PAH untuk mencukupi kebutuhan air bersih 600 kk setempat.

     Upaya lain dari gerakan itu adalah membentuk "srikandi sungai" di mana kaum ibu diberi pemahaman agar tidak membuang sampai di sungai.

     "Semua upaya itu diharapkan agar sungai tetap bersih, sehat, produktif, aman, bermanfaat, dan tetap lestari," kata Agus.

(B015)











































































































Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar