Peserta KB aktif di Yogyakarta masih rendah

id KB

Ilustrasi Keluarga Berencana (Foto antaranews.com)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Jumlah peserta KB aktif di Kota Yogyakarta hingga Oktober tahun ini dinilai masih rendah yaitu baru mencapai sekitar 68 persen dari total pasangan usia subur yang ada di kota tersebut.
   
“Hingga Oktober ini, dari 40.451 pasangan usia subur (PUS), jumlah peserta KB aktif hanya tercatat 27.415 pasangan. Artinya, baru sekitar 68 persen saja yang menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Yogyakarta Eny Retnowati di Yogyakarta, Kamis.
   
Sebagian besar peserta KB aktif di Kota Yogyakarta memanfaatkan alat kontrasepsi IUD sebanyak 9.092 orang, suntik sebanyak 7.672 orang dan menggunakan kondom sebanyak 5.641 orang.
   
Sementara itu, sebanyak 13.036 pasangan usia subur memilih tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun dengan berbagai alasan di antaranya sedang hamil, atau ingin memiliki anak dalam waktu dekat.
   
“Tetapi, ada pula pasangan yang ingin menunda anak dan tidak ingin memiliki anak lagi namun tidak menjadi peserta KB aktif. Jumlahnya masih cukup banyak sekitar 6.000 orang,” katanya.
   
Meskipun jumlah pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi jumlahnya cukup banyak, namun tingkat kelahiran di Kota Yogyakarta tergolong rendah.
   
Meskipun demikian, ia mengatakan, kampanye atau sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan terus dilakukan, di antaranya melalui kegiatan yang dilakukan di Kampung KB.
   
Saat ini, di Kota Yogyakarta sudah terbentuk 28 Kampung KB. “Harapannya, kepesertaan KB juga bisa meningkat seiring dengan peningkatan jumlah Kampung KB di Kota Yogyakarta,” katanya. 
   
Selain sosialisasi, upaya peningkatan kepesertaan KB aktif juga dilakukan dengan menggelar kegiatan KB gratis dan pemeriksaan kesehatan reproduksi.
   
“Kami juga terus mendorong kepesertaan KB pria. Hingga Oktober, jumlah peserta KB pria baru tercatat sebanyak 135 orang,” katanya.
   
Eny menambahkan, upaya pengendalian penduduk juga dilakukan dengan penyuluhan kepada pasangan usia subur yang masih berusia di bawah 21 tahun, khususnya untuk perempuan.
   
“Saat ini, angka pernikahan dini semakin banyak. Sehingga banyak perempuan yang belum berusia 21 tahun sudah menikah. Akan lebih baik jika mereka menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan hingga berusia 21 tahun,” katanya.
   
Pengaturan kehamilan pada saat sudah berusia 21 tahun tersebut erat kaitannya dengan kesehatan reproduksi perempuan sehingga kehamilan dan proses persalinan tidak akan membahayakan ibu maupun bayi yang dikandung.
   
“Anak yang dilahirkan pun akan lebih sehat sehingga lahir generasi-generasi berkualitas di masa yang akan datang,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar