Bawaslu Kulon Progo santuni Panwaslu terkena musibah pada Pemilu

id santunan panwaslu kulon progro,bawaslu kulon progo, pemilu 2019

Ketua Bawaslu Kulon Progo Ria Harlinwati menyerahkan bantuan secara simbolis kepada keluarga pawaslu yang meninggal dunia saat menjalankan tugas pada Pemilu 2019. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan santunan kepada enam petugas pengawas pemilu yang terkena musibah saat menjalankan tugas pada Pemilu 2019.

Ketua Bawaslu Kulon Progo Ria Harlinawati di Kulon Progo, Kamis, mengatakan enam petugas pengawas pemilu yang mendapat satunan, yakni Thomas Riyadi anggota Panwas Desa Purwosari dan Sardiyono anggota Panwas Keluharan Wates menjalankan tugas hingga meninggal kelelahan.

Kemudian, kepada empat panwaslu lain yang mengalami kecelakaan kerja hingga menimbulkan luka, yakni Ahmad Syafiiq, Panwaslu Desa Banjararum, Kalibawang; Ruwaida Rismawati, Panwaslu Desa Hargotirto, Kokap; Reza Bakhtiar Ramadhan, Panwaslu Desa Kaliagung, Sentolo dan Janarta, Panwaslu Desa Sentolo, Sentolo.

"Anggota panwas yang mendapat santunan telah lolos persyaratan administrasi, mulai dari keterangan rumah sakit hingga surat keterangan dari kepolisian," kata Ria Harlinawati.

Ia mengatakan satunan untuk anggota Panwaslu yang meninggal sebesar Rp16,5 juta, kemudian anggota yang mengalami luka masing-masing memperoleh santunan sebesar Rp8,25 juta.

"Besaran ini tidak sebanding dengan dedikasi, dan loyalitas mereka saat menjalankan tugas dalam mengawal pesta demokrasi. Santunan ini sebagai bentuk penghargaan mereka atas loyalitas, dedikasi dan integritas menjalankan tugas," katanya.

Dia menerangkan, kecelakaan kerja yang menimpa para panwas ini rata-rata disebabkan karena capek. Hal ini mengingat pelaksana Pemilu 2019 dilangsungkan secara serentak sehingga memakan waktu berhari-hari. Akibatnya, tenaga panwas terkuras.

"Banyak panwas yang kemudian kurang konsentrasi sehingga saat pulang bertugas mengalami kecelakaan, seperti jatuh. Beberapa diantaranya ada yang sakit sampai meninggal dunia," katanya.

Sementara itu, istri Sardiyono anggota Panwaslu Wates, Tusiyem mengatakan suaminya meninggal dunia sebulan pasca hari H pencoblosan. Sebelum berpulang ke Sang Khalik, Sardiyono sempat dirawat intensif selama enam hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates.

"Suami saya sudah sembuh dan dibawa pulang dari rumah sakit, tapi sampai rumah meninggal dunia," katanya.

Istri Thomas Slamet Riyadi, Sumartin mengatakan suaminga sangat kelelahan. Suaminya hampir tidak pernah tidur selama melaksanakan tugas negara itu. "Bapak kalau kerja giat banget, bahkan jam 10 malam kalau harus kerja dia pasti berangkat," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar