Pemkab Gunung Kidul izinkan ternak dari endimik antraks dijual

id Hewan ternak,Antraks,Gunung Kidul

Pemkab Gunung Kidul izinkan ternak dari endimik antraks dijual

Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul melakukan pengawasan hewan ternak cegah penyakit menular pada hewan. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengizinkan hewan ternak dari wilayah endemik antraks untuk diperjualbelikan mengingat sudah tidak ditemukan hewan ternak mati.

"Setelah dilakukan vaksinasi hingga kini sudah tidak ada lagi hewan yang mati ataupun positif antraks, sehingga hewan ternak yang berasal dari lokasi endemik antraks sudah boleh keluar," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto di Gunung Kidul, Kamis.

Namun demikian, kata dia, pemkab terus melakukan pengawasan, seperti lalu lintas ternak di pos penjagaan Kecamatan Ngawen dan Bedoyo.

"Pengawasan keluar masuk hewan ternak tetap dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi masuknya penyakit pada hewan ternak," kata dia.

Bambang mengakui adanya penurunan penjualan hewan ternak di Pasar Hewan Sionoharjo, Playen yang signifikan. Dia mencontohkan, sebelum kasus antraks muncul ada sekitar 10 ribu ekor kambing yang diperjualbelikan sehari, namun pasca-antraks hanya sekitar 2.500 ekor. Demikian pula penjualan daging di Pasar Argosari masih lesu.

Pekerjaan rumah yang masih dilakukan pemkab yakni mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk kembali mengkonsumsi daging lokal.

"Kami berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat untuk mengkonsumsi daging. Daging di Gunung Kidul aman dikonsumsi,” ucap Bambang.

Kasi Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Retno Widiastuti mengatakan dari 26 Desember 2019 lalu, hingga saat ini total ada 205 ekor hewan ternak mati, yang terdiri dari 140 ekor sapi, 64 ekor kambing, dan satu domba. Sebagian besar mati karena keracunan makanan, radang paru, hingga trauma.

Dari ratusan hewan ternak yang mati hanya enam ekor yang positif antraks. 

Dijelaskannya, untuk mengantisipasi kasus antraks muncul kembali, pihaknya sudah memberikan vaksin kepada 5.496 ekor hewan ternak. Adapun diantaranya 1.850 ekor sapi, 4.094 ekor kambing, dan dua ekor domba.

Selain itu memberikan antibiotik dan vitamin sebanyak 12.715 ekor hewan ternak, adapun rinciannya 3703 ekor sapi, 8972 ekor kambing, dan 40 ekor domba.

Saat ini penjualan ternak keluar wilayah sudah mulai dilakukan. Jika dalam waktu 20 hari setelah divaksin ternak tidak mengalami gangguan, maka dipastikan aman untuk dijual keluar.

"Ternak tersebut sebelumnya sudah mendapatkan vaksin, antibiotik, hingga vitamin. Ternak yang dijual pun wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari wilayah asalnya. Tapi dari lokasi endemik antraks data kami belum ada yang menjual, malah mereka membeli. Tercatat ada delapan ekor sapi yang masuk,” kata Retno.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar