Idul Adha, penumpang bus di Terminal Giwangan diperkirakan tak alami kenaikan

id Terminal Giwangan, penumpang, idul adha

Idul Adha, penumpang bus di Terminal Giwangan diperkirakan tak alami kenaikan

Dokumentasi - Penumpang bus yang tiba di Terminal Giwangan Yogyakarta pada masa Angkutan Lebaran 2019. (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Jumlah penumpang yang tiba maupun diberangkatkan dari Terminal Giwangan Yogyakarta pada masa libur panjang akhir pekan bertepatan dengan libur Idul Adha 2020 diperkirakan tidak mengalami kenaikan.



“Saya perkirakan, tidak akan ada kenaikan jumlah penumpang yang masuk ke Terminal Giwangan saat Idul Adha karena sampai sekarang pun, kondisinya masih saja sepi,” kata Koordinator Satuan Pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta Bekti Zunanta di Yogyakarta, Kamis.



Menurut dia, jumlah bus yang beroperasi di Terminal Giwangan Yogyakarta saat ini hanya tersisa sekitar 20 persen dibanding saat sebelum terjadi pandemi COVID-19.



“Jumlah penumpang pun jauh berkurang. Terkadang bus AKAP (antarkota antarprovinsi) yang tiba di Terminal Giwangan hanya membawa satu sampai tiga penumpang saja,” katanya.



Ia mencontohkan, bus dari arah Surabaya yang masuk ke Terminal Giwangan saat ini hanya satu sampai dua bus per hari. Bus tersebut terkadang hanya sampai di Solo dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta karena tidak ada penumpang.



“Untuk bus Solo-Yogyakarta pun, hanya ada tiga sampai empat bus yang masuk per hari. Kondisi terminal memang masih sangat sepi,” katanya.



Saat ini, lanjut Bekti, penumpang bus memang memiliki lebih banyak kemudahan untuk melakukan perjalanan jarak jauh karena tidak lagi diminta membawa surat keterangan sehat maupun surat bebas COVID-19 baik dari pemeriksaan rapid test maupun dari uji swab layaknya penumpang untuk moda transportasi umum lainnya seperti kereta api dan pesawat terbang.



Namun demikian, Bekti menambahkan, kelonggaran persyaratan tersebut justru berdampak pada munculnya kekhawatiran masyarakat untuk menggunakan moda transportasi darat tersebut saat akan menempuh perjalanan jarak jauh dengan waktu tempuh cukup lama.



“Karena tidak ada syarat yang ketat, masyarakat justru lebih merasa khawatir bisa tertular virus corona dalam perjalanan karena tidak tahu riwayat perjalanan penumpang lain meskipun sudah ada pembatasan kapasitas bus,” katanya.



Apalagi, lanjut Bekti, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia juga terus mengalami kenaikan yang cukup banyak setiap hari.



“Masyarakat lebih memilih moda transportasi lain atau menggunakan kendaraan pribadi karena merasa lebih aman apalagi penggunaan kendaraan pribadi tidak lagi diberlakukan pembatasan kapasitas. Satu mobil bisa diisi penuh,” katanya.



Meski aktivitas di Terminal Giwangan cenderung sepi, namun Bekti memastikan, seluruh petugas, pengemudi, dan awak bus yang ada di terminal tetap diminta menjaga protokol kesehatan.



“Semuanya wajib pakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan dengan sabun,” katanya.



Sementara itu, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta Eko Budiyanto mengatakan okupansi kereta api yang dioperasionalkan saat libur akhir pekan bertepatan dengan libur Idul Adha mencapai 70 persen.



“70 persen itu sesuai kapasitas maksimal kereta yang diizinkan pada masa pandemi seperti sekarang,” katanya.



Pada libur Idul Adha ini, ada tambahan kereta api yang dioperasionalkan dari Daop 6 yaitu Argo Lawu, Argo Dwipangga dan Taksaka setelah sebelumnya telah dioperasionalkan Senja Utama Solo, Bengawan, dan Sri Tanjung.



“Biasanya, okupansi kereta yang sudah dioperasionalkan tiap hari memang masih sangat rendah,” katanya.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar