Warga temukan batu candi dan arca

id warga temukan batu

Warga temukan batu candi dan arca

Ilustrasi (Foto antarajateng.com)

Sleman (Antara Jogja) - Seorang warga Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan puluhan batu berbentuk bolder dan sebuah arca yang diduga merupakan peninggalan dari masa kerajaan Hindu abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.

"Batu-batu dan arca ini kami temukan saat menggali lubang di tanah untuk membangun menara BTS," kata warga yang menemukan arca itu, Sukar, Selasa.

Menurut dia, dirinya sebelumnya tidak menyangka jika di sebuah galian yang rencananya akan dibangun menara BTS telepon seluler tersebut akan menemukan batu candi dan arca.

"Awalnya saat menggali tanah, saya hanya menemukan susunan batu di kedalaman dua meter. Semula saya hanya mengira itu batu kali. Namun setelah terus menggali, saya kemudian menemukan sebuah arca setinggi sekitar 64 sentimeter," katanya.

Atas temuan tersebut, kemudian dilaporkan ke pemerintah desa setempat, dan dilanjutkan ke pihak berwenang.

Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta yang mendapatkan laporan temuan benda yang diduga bersejarah itu, langsung menuju lokasi dan melakukan penelitian awal.

"Dari hasil pengecekan awal, batuan dan arca tersebut berasal dari masa Hindu Klasik abad ke-9 hingga ke-10 Masehi," kata Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta Wahyu Astuti.

Menurut dia, arca temuan tersebut bernama Mahakala yang merupakan dewa penjaga pintu candi, dan berbahan batu andesit.

"Namun, dari penampakannya, arca itu diduga belum selesai dibuat, karena ditemukan di beberapa bagian arca tersebut masih belum tampak jelas pahatannya," katanya.

Ia mengatakan dengan temuan arca dan batuan candi itu, diduga di kawasan setempat masih ada arca lainnya. "Arca Maha Kala ini biasanya tidak sendiri, tetapi berpasangan dengan arca Nadiswara. Kami mengimbau kepada masyarakat di lokasi sekitar, jika nanti ada temuan benda cagar budaya, agar melapor," katanya.

(V001)
Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar