Produk kuliner Kube disiapkan untuk "go public"

id Kube,kuliner

Produk kuliner Kube disiapkan untuk "go public"

Kurasi produk kuliner yang dihasilkan Kelompok Usaha Bersama (Kube) di Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kualitas produk sehingga bisa dipasarkan lebih luas (Foto Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Sosial Kota Yogyakarta bersama Forum Kelompok Usaha Bersama (Kube) Kota Yogyakarta berusaha meningkatkan kualitas produk kuliner olahan yang dihasilkan kelompok tersebut agar siap “go public” dengan jangkauan pemasaran lebih luas.

“Selama ini, sebagian besar produk kuliner yang dihasilkan Kelompok Usaha Bersama (Kube) baru dinikmati oleh warga di sekitar tempat tinggal mereka. Tetapi, dengan adanya program Gandeng Gendong dari Pemerintah Kota Yogyakarta, maka kami mendorong agar produk kuliner Kube siap ‘go public’. Bisa dipasarkan lebih luas,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta Bedjo Suwarno di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, salah satu sasaran pemasaran yang dibidik adalah hotel yang ada di sekitar wilayah Kube termasuk memenuhi kebutuhan jamuan makan dan minum berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.

“Kami pun bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta serta Asosiasi Jasa Boga untuk memberikan masukan guna meningkatkan kualitas produk kuliner Kube. Kami lakukan kurasi terhadap produk makanan yang dihasilkan,” katanya.

Dari hasil kurasi yang dilakukan, Bedjo mengatakan, sebagian besar produk kuliner dinilai masih belum memenuhi standar sanitasi dan higienitas meskipun sudah ada beberapa produk yang memperoleh penilaian positif karena rasa dan penampilannya mampu memenuhi standar untuk dipasarkan di hotel.

Pembentukan Kube di Kota Yogyakarta sudah dimulai sejak 2003 dan hingga saat ini sudah ada 613 Kube yang terbentuk. Selain bergerak di bidang produksi kuliner, Kube juga bergerak di bidang usaha jasa.

Namun demikian, tidak semua Kube yang terbentuk dapat terus berkembang dan melakukan berbagai kegiatan secara aktif. Hingga saat ini hanya tersisa sekitar 418 Kube yang mampu berkembang.

Pada awal pembentukannya, setiap Kube yang beranggotakan 10 warga miskin memperoleh bantuan dana Rp20 juta yang digunakan sebagai modal untuk pengembangan usaha.

“Terkadang, ada saja kelompok yang tidak mampu berkembang dan akhirnya tidak aktif karena kehilangan motivasi untuk menjalankan usaha yang dirintis dari awal,” kata Koordinator Pendamping Kube Kota Yogyakarta Nur Arida.

Sementara itu, Kepala Bidang Advokasi dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Yogyakarta Tri Maryatun mengatakan, kesulitan yang dihadapi Kube untuk bisa mengikuti program Gandeng Gendong memenuhi kebutuhan jamuan makan dan minum Pemerintah Kota Yogyakarta adalah tidak memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan nomor pangan industri rumah tangga (PIRT) serta kecukupan modal.

“Dari 300 Kube yang aktif di bidang usaha kuliner, baru 10 kelompok yang mengikuti program Gandeng-Gendong memenuhi kebutuhan jamuan makan minum pemerintah daerah meskipun ada pula anggota Kube yang tergabung dengan kelompok lain dari program UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera),” katanya.

Sedangkan Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi meminta agar anggota Kube yang belum mengikuti program Gandeng-Gendong dapat disinergikan dengan kelompok lain yang tidak dapat mendaftar sebagai penyedia jamuan makan dan minum di Pemerintah Kota Yogyakarta karena tidak memiliki anggota dari keluarga miskin.

“Dari 1.500 kelompok usaha kuliner di masyarakat yang sudah memiliki PIRT, baru 80 kelompok saja yang tergabung untuk memenuhi jamuan makan dan minum pemerintah daerah. Sisanya belum bisa mendaftar karena tidak memiliki anggota dari keluarga miskin. Data ini bisa saling disinergikan,” katanya.

Heroe pun mendorong agar Kube tidak perlu takut menjalin kerja sama dengan hotel yang berada di lingkungan tempat tinggalnya untuk pemenuhan kebutuhan makan dan minum. ”Sudah ada beberapa hotel yang bekerja sama dengan UMKM kuliner di Kota Yogyakarta,” katanya. 
 

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar