BPBD Sleman : droping air bersih diupayakan untuk alternatif terakhir

id Droping air bersih,Kekeringan,Yogyakarta

BPBD Sleman : droping air bersih diupayakan untuk alternatif terakhir

Ilustrasi droping air bersih di daerah yang dilanda krisis air (Foto antaranews.com)

Sleman (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan droping air bersih di kawasan rawan kekeringan semestinya menjadi alternatif terakhir jika memang kondisi sumber air terdekat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga.

"Kami mendorong masyarakat di daerah rawan kekeringan, seperti di Kecamatan Prambanan untuk mengoptimalkan sumber air terdekat, sehingga droping air ini tidak menjadi rutinitas pada saat musim kemarau," kata Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Rabu.

Menurut dia, penanganan masalah kekeringan adalah mengupayakan bagaimana agar ancaman kekeringan ini dapat ditanggulangi secara berkelanjutan.

"Jadi jika hanya dengan droping air, maka ini tidak mengatasi masalah dalam jangka panjang. Butuh peran serta masyarakat untuk mengatasi masalah ini," katanya.

Ia mengatakan, di wilayah Kecamatan Prambanan terdapat Organisasi Pengelolaan Air (OPA) Prambanan dan jika ini dioptimalkan diharapkan dapat mengatasi ancaman kekeringan dalam jangka panjang.

"Namun tentunya OPA ini juga butuh peran serta masyarakat dalam operasionalnya, karena tentunya ada biaya perawatan. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang berlangganan air bersih pada OPA maka biaya operasional bisa lebih ringan," katanya.

Makwan mengatakan, meski demikian pihaknya juga telah menyiapkan sebanyak 75 tangki air untuk droping di wilayah Kecamatan Prambanan.

"Satu tangki berisi 5.000 liter air. Setidaknya itu cukup, kalau masih kurang akan kami tambah lagi di anggaran perubahan," katanya.

Dusun Kikis, Sambirejo, Prambanan merupakan salah satu wilayah yang langganan kekeringan. Tahun ini sudah ada empat RT yang mengajukan droping air ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman.

"Ada sekitar 100-an Kepala Keluarga (KK) yang meminta droping air seminggu sekali masing-masing satu tangki berisi 5.000 liter. Artinya setiap minggu harus droping empat tangki," kata pengurus Organisasi Pengelolaan Air (OPA) Prambanan Murjiyanto.

Menurut dia, permasalahan kekurangan air sebenarnya bisa teratasi dengan kehadiran OPA. Namun belum semua masyarakat berlangganan OPA.

"Selain itu, permasalahan lain terkait gravitasi untuk mengalirkan air dan jarak antar rumah yang berjauhan. Sehingga dibutuhkan banyak pipa yang digunakan untuk mengalirkan air ke rumah warga," katanya.

Ia mengatakan, selain itu ada juga warga yang memang karena melihat sumur masih ada air sehingga saat ditawari untuk berlangganan OPA tidak mau.

"Padahal debit air OPA yang berada di Desa Bokoharjo bisa mencukupi kebutuhan pokok masyarakat. Selain itu, semakin banyak yang berlangganan semakin ringan biaya operasionalnya," katanya.

Murjiyanto mengatakan, saat ini untuk berlangganan air bersih di OPA Prambanan per meter kubik masyarakat ditarik Rp8.000, kalau masyarakat yang berlangganan hanya sedikit OPA justru mati karena biaya membengkak," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya untuk bisa zero droping air harus memaksimalkan OPA dulu, kalau memang benar tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok yaitu untuk konsumsi sehari-hari baru droping.

"Selama ini jika ada satu yang minta droping, semua pasti juga minta droping," katanya.

Baca juga: BPBD Kulon Progo belum menerima laporan wilayah kekurangan air bersih
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar