Pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta perkirakan tidak ada lonjakan penumpang Lebaran

id penumpang,bus,terminal giwangan,lebaran

Pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta perkirakan tidak ada lonjakan penumpang Lebaran

Ilustrasi suasana jalur kedatangan bus di Terminal Giwangan Yogyakarta yang tampak sepi (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta memperkirakan tidak terjadi kenaikan jumlah penumpang yang datang maupun diberangkatkan dari terminal utama di Kota Yogyakarta tersebut selama beberapa hari ke depan atau mendekati Lebaran 2020.



“Untuk melakukan perjalanan antardaerah dengan menggunakan moda transportasi bus membutuhkan syarat yang sangat ketat dan banyak. Saya kira, persyaratan tersebut otomatis mengurangi jumlah warga yang hendak bepergian keluar daerah,” kata Kepala Satuan Pengelola Terminal Giwangan Yogyakarta Bekti Zunanta di Yogyakarta, Rabu.



Oleh karenanya, lanjut dia, rata-rata jumlah penumpang yang datang ke Terminal Giwangan diperkirakan hanya mencapai angka puluhan tiap hari, apalagi bus untuk angkutan penumpang umum dari arah Jabodetabek serta Surabaya tidak masuk ke terminal tersebut dan tidak ada yang diberangkatkan dari Giwangan.



Dalam tiga hari terakhir, sejak Minggu (17/5), hingga Selasa (19/5), jumlah penumpang yang datang dari luar DIY ke Terminal Giwangan berturut-turut tercatat tujuh orang, 56 orang, dan 48 orang.



Peningkatan jumlah penumpang yang datang di Terminal Giwangan pada Senin (18/5) dan Selasa (19/5) dipengaruhi adanya WNI repatriasi yaitu anak buah kapal (ABK) yang tiba di terminal tersebut.



“Untuk hari-hari berikutnya hingga nanti Lebaran, diperkirakan jumlah penumpang akan berada di angka puluhan per hari atau stabil. Tidak ada kenaikan jumlah penumpang,” katanya.



Selain banyaknya syarat yang harus dipenuhi calon penumpang, Bekti mengatakan, operator transportasi juga harus memenuhi berbagai syarat yang ditetapkan, salah satunya bus yang dioperasionalkan harus memiliki stiker dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.



“Jadi, untuk menyelenggarakan operasional angkutan pun cukup sulit dan terbatas. Tidak boleh untuk mudik dan keterisiannya pun maksimal harus 50 persen,” katanya.



Sejumlah bus untuk penumpang umum yang masih beroperasi, lanjut Bekti, berasal dari beberapa wilayah yang tidak menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) misalnya dari Purwokerto, Cilacap, Magelang, dan Solo dengan jumlah armada yang tidak terlalu banyak.



“Untuk armada yang masih beroperasi, kami tetap menekankan protokol perjalanan yang ketat untuk mencegah penularan virus corona. Pendataan dan pemeriksaan kesehatan dengan pengecekan suhu tetap dilakukan untuk penumpang yang datang,” katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar