Penempatan pasien di selter COVID-19 Yogyakarta selektif

id selter,covid-19,penempatan pasien,yogyakarta

Penempatan pasien di selter COVID-19 Yogyakarta  selektif

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti (kanan) saat meninjau kesiapan kamar isolasi di selter penanganan COVID-19 Yogyakarta yang memanfaatkan rumah susun di Kelurahan Bener, Jumat (18/9). (ANTARA/Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Meski menyediakan fasilitas berupa selter untuk penanganan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala, namun penempatan pasien di selter untuk kebutuhan isolasi dilakukan secara selektif.

“Tidak semua pasien terkonfirmasi positif yang tidak menunjukkan gejala sakit apapun bisa langsung masuk ke selter. Tentu harus ada rekomendasi dulu dari berbagai aspek,” kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti usai meninjau kesiapan selter penanganan COVID-19 Yogyakarta di Yogyakarta, Jumat.

Salah satu pertimbangan yang akan dijadikan dasar adalah apabila pasien mengalami kesulitan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah dan di wilayah tempat tinggalnya pun tidak memungkinkan untuk menyiapkan tempat isolasi.

Jika semua pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala apapun langsung dimasukkan ke selter, lanjut Haryadi, maka kapasitas yang dimiliki diperkirakan langsung langsung penuh.

Berdasarkan data corona.jogjakota.go.id, hingga Kamis (17/9) terdapat 97 kasus positif aktif di Kota Yogyakarta, dan 80 kasus di antaranya merupakan pasien tanpa gejala yang sekarang sedang melakukan isolasi mandiri.

Saat ini, Pemerintah Kota Yogyakarta sedang melakukan berbagai persiapan untuk menyulap rumah susun sewa di Kelurahan Bener sebagai selter penanganan COVID-19.

Rumah susun yang dibangun Kementerian PUPR tersebut terdiri dari 42 unit dengan masing-masing unit memiliki dua kamar. Rumah susun tersebut selesai dibangun akhir 2019 dan sampai saat ini belum ditempati.



“Saat menempati selter pun, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi. Misalnya tidak sembarangan keluar masuk kamar, menjaga kebersihan kamar dan mematuhi aturan lain yang sudah ditetapkan. Tidak boleh seenaknya. Jangan dikira sedang berlibur meskipun fasilitas kamar cukup lengkap dan layak,” kata Haryadi.

Ia pun memastikan, kompleks selter tersebut sudah dibagi menjadi beberapa area seperti area infeksius untuk pasien melakukan isolasi, area noninfeksius, dan nantinya akan ada area dekontaminasi untuk petugas medis usai mengantar pasien.

“Setiap petugas yang masuk area infeksius atau area utama selter harus memakai alat pelindung diri lengkap grade tiga,” katanya.

Ia pun mengimbau keluarga tidak menjenguk pasien selama menjalani isolasi. Pengantaran pasien ke selter pun dilakukan berdasarkan prosedur khusus yaitu ambulan tidak diperbolehkan membunyikan sirine untuk menjaga kenyamanan warga di sekitar lokasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Ariyani mengatakan, pasien terkonfirmasi positif yang akan menempati selter akan diantar oleh petugas puskesmas.

“Saat sampai di selter, setiap pasien akan menerima paket yang berisi kebutuhan sehari-hari saat menjalani isolasi seperti alat mandi, handuk, vitamin, madu dan lainnya,” katanya.

Pemantauan kondisi kesehatan dilakukan oleh petugas puskesmas yang mengantar pasien hingga ke selter. Pemantauan dilakukan melalui telepon untuk mengurangi kontak langsung.

“Kami juga akan jadwalkan kegiatan tambahan agar pasien tidak bosan seharian di kamar. Misalnya berjemur atau olahraga ringan di halaman,” katanya.

Pasien akan menjalani isolasi mandiri selama 10 hari dan jika tidak menunjukkan gejala apapun maka bisa dipulangkan ke rumah. Pemulangan pun harus mengikuti prosedur khusus yaitu diantar oleh petugas puskesmas. “Tidak boleh pulang sendiri,” katanya.

Namun demikian, jika kondisi pasien memburuk, maka bisa langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat. Satu unit ambulan dari Public Safefy Center (PSC) 119 akan selalu disiagakan di lokasi selter.

Sedangkan untuk penempatan pasien di kamar isolasi, lanjut Emma, akan dilakukan sesuai kebutuhan. “Misalnya berasal dari keluarga yang sama maka ditempatkan di satu unit yang sama. Tetapi jika tidak, maka akan ditempatkan di satu unit sendiri,” katanya.

Ia pun mengimbau agar pasien yang nantinya ditempatkan di selter untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. “Saat ini, yang paling penting adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan karena banyak kasus tanpa gejala,” katanya.
 

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar